Cak Anam, Ansor Tulen Didikan Gus Dur

H. Raditya M Khadaffi

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Politisi lokal Jawa Timur mesti kenal nama Cak Anam. Yang memiliki nama lengkap Drs. H. Choirul Anam. Terutama politisi generasi baby boomer, sekelas Gus Ipul atau Saifullah Yusuf, Nusron Wahid, Gus Yaqut Cholil Qoumas, Cak Imin, LaNyalla Matalitti, Prawobo Subianto, dan Khofifah Indar Parawansa.

Pria sederhana ini, minggu lalu dihardik anak-anak muda generasi milenial yang mengaku warga Ansor atau Banser. Mereka Jumat lalu bikin ribut di kantor Cak Anam, di daerah Gayungsari Surabaya.

Dari video viral yang saya dapat di beberapa WhatsApp grup, tampak puluhan Banser di Surabaya mengamuk. Mereka berteriak-teriak dan meminta acara itu dibubarkan. Mereka bahkan mencoba melucuti pakaian salah satu anggota deklarasi.

Tak hanya itu, dalam video itu tampak anggota Banser lepas kontrol dan melempar kursi di acara tesebut. Aksi Banser Surabaya ini pun menimbulkan pro dan kontra.

Menurut saksi mata yang saya hubungi kegiatan deklarasi Ikatan Alumni Ansor yang diwarnai kericuhan setelah pihak Ansor-Banser menolak tinggalkan tempat Cak Anam berkegiatan harian. Mereka ada yang merangsek masuk ke lokasi deklarasi di halaman gedung PPKN (Pergerakan Penganut Khitthah Nahdliyyah) di Gayungsari Timur 35, Surabaya.

Padahal awalnya, kegiatan deklarasi ini hanya diikuti oleh puluhan orang. Tak berlangsung lama, kelompok Ansor-Banser Surabaya datang dan meminta deklarasi dihentikan.

 

***

 

Meski saya bukan anggota Ansor, banser dan generasi milenial, saya paham makna kata “alumni”. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, alumni adalah 'orang-orang yang telah mengikuti atau tamat dari suatu sekolah atau perguruan tinggi'.

Dengan definisinya yang umum berlaku di dunia ini.  Kata "alumni" umumnya digunakan sebagai sebutan "mahasiswa" yang telah menyelesaikan studinya.

Akal sehat saya mengatakan sebutan "alumni"ditujukan pada kelompok orang yang telah menyelesaikan studinya baik ditingkat "sekolah"maupun di tingkat "universitas"

Kata "alumnus" ini berasal dari bahasa latin yang berupa kata benda yang ditujukan untuk lulusan "laki laki" (masculine) perorangan, sedangkan untuk kata jamaknya disebut dengan "alumni".

Kalau kita buka Kamus Besar Bahasa Indonesia kata "alumni" digunakan untuk memberikan sebutan pada orang orang yang telah mengikuti atau tamat dari sekolah atau perguruan tinggi.  Jadi sebenarnya baik Kamus Besar Bahasa Indonesia maupun definisi umum yang digunakan di dunia hampir sama, tamatan atau 'lulusan'.

Akal sehat saya, penggunaan kata  "alumni" ini adalah kata lulusan sekolah atau universitas bukan suatu gerakan ataupun kumpul-kumpul.  Sementara kata yang paling tepat digunakan untuk suatu gerakan ataupun kumpul-kumpul adalah "peserta" bukan "alumni".

Nah, mengapa pimpinan Ansor Surabaya terusik dengan kegiatan deklarasi ini? Orang yang mengklaim dari Alumni asli Gerakan Pemuda (GP) Ansor Jawa Timur ini menolak rencana sekelompok orang yang mengatasnamakan juga alumni ansor dan akan mendeklarasikan organisasi bernama “Ikatan Alumni GP Ansor”

Cak Anam, yang Mantan Ketua PW GP Ansor Jatim, menyebut pembubaran itu sebagai bentuk premanisme.

“Itu premanisme! Jadi Banser preman! Tindakan premanisme Banser ini sudah tidak beretika, tidak bermoral, dan melanggar aturan,” kata Cak Anam, usai pembubaran deklarasi IKA Ansor Jatim, Jumat 17 Juni 2022 lalu.

Sementara Ketua Pengurus Cabang (PC) GP Ansor Surabaya, HM Faridz Afif mereaksi balik atas reaksi keras Choirul Anam yang menyebut tindakan Banser Surabaya membubarkan deklarasi Ikatan Alumni (IKA) Ansor Jatim sebagai bentuk premanisme.

“Itu bukan premanisme, tapi manjaga martabat organisasi kami. Kenapa kok begitu? Karena sudah dinodai doreng Banser kami dan logo yang bukan Banser, nah ini penodaan, bukan premanisme. Ini menjaga organisasi tercinta kami, sejalan sesuai rule organisasi,” katanya, Sabtu 18 Juni 2022.

 

***

 

H. Choirul Anam, mantan Ketua PW GP Ansor Jatim, kini juga Pemimpin Umum harian Duta Masyarakat. Sebagai jurnalis muda yang mengikuti perjuangan Cak Anam, saya menyebutnya adalah aktivis. Sampai kini, hidupnya tak pernah jauh dari gerakan yang memperjuangkan eksistensi NU.

Buku-bukunya yang saya baca, Cak Anam telah bergaul akrab dengan Gus Dur sejak tahun 1978. Dari buku yang ditulisnya, Cak Anam, sangat mengagumi sifat ikhlas yang dimiliki cucu KH Hasyim Asy’ari ini.

Cak Anam, dalam beberapa kali ceramahnya, sangat menghormati ulama seperti Gus Dur. Kehidupan sehari-harinya, ia seperti melanjutkan kebaikan Gus Dur, antara lain setiap mendapat pemberian uang dari orang lain, uang-uang tersebut tidak pernah masuk dalam kantong pribadinya.

Bila ada orang yang membutuhkan pertolongannya, Cak Anam seperti Gus Dur tidak pernah menolak jika ada orang yang meminta bantuan. Jika sedang tidak memiliki uang, ia akan meminta pengikut dan sahabatnya yang berkecukupan untuk membantu mereka.

Makanya rumahnya di kampung, Jl kutisari indah barat IV No 85 Surabaya, cukup sederhana. Ruang kerjanya menyatu dengan mushola dan dapur. Ada panci, gelas, buku, sajadah, camilan dalam toples, charge HP dan gantungan handuk. Ini ruangan khas seperti di pesantren.

Bagi saya, kehidupan sehari-hari Cak Anam sungguh fenomenal, ya wartawan, aktivis dan ulama kontemporer. Selain hapal Qur’an, juga mencirikan warga NU yaitu kemana-mana bersarung dan kopyah hitam.

Sebagai jurnalis, saya menyebut Cak Anam, yang saat ini dalam usia lebih 66 tahun seperti sekarang sudah bisa ‘mengukur kedalaman’ etika, moralitas atau akhlaq seorang warga nahdliyin.

Meski pernah sakit cukup keras, Cak Anam, selalu menjadi perbincangan banyak orang. Tak heran politisi sekelas LaNyalla, pernah sowan ke rumahnya di gang sempit.

Jujur, saya bertanya-tanya mengapa ada kelompok yang menyebut Alumni asli Gerakan Pemuda (GP) Ansor Jawa Timur menolak rencana kelompok alumni Ansor yang simpati pada Cak Anam.?

Suka atau tidak, nama Cak Anam sendiri sampai kini masih terpatri kuat di sejarah GP Ansor. Sejarah mencatat Cak Anam, adalah penulis buku ‘Gerak Langkah Pemuda Ansor’ . Buku ini menulis narasi apik dari sebuah percikan sejarah kelahiran GP Ansor.

Juga buku tulisan Cak Anam, yang bertajuk ‘Pertumbuhan dan Perkembangan NU’ telah membuat sejumlah kader nahdliyin ‘angkat topi’. Tentu belum bagi mereka yang tak membacanya. Hampir seluruh buku tentang NU, seakan ‘wajib’ mengutip buku-buku tulisan Cak Anam.

Wajar, sebagai jurnalis muda, saya menoreh dalam pikiran saya bahwa Cak Anam ialah tokoh GP Ansor pengikut setia Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid) — yang pernah membuat kebijakan menjaga Gereja. Maklum saat itu, kehadiran Banser jaga gereja sangat dibutuhkan demi perlindungan keamanan bagi minoritas yang terancam.

Bagi jurnalis religi yang nasionalis, kepribadian, ahlaq, moral dan semangat wartawan seperti Cak Anam, dibutuhkan agar terus terpanggil menulis dan menghidupkan tradisi menulis di NU. Apakah mereka yang membubarkan deklarasi Jumat lalu, punya segudang prestasi seperti Cak Anam. Terutama ahlaq dan keilmuan tentang NU?.

Saya jurnalis yang beruntung pernah membaca tulisan Cak Anam. Meski bukunya tebal lebih dari 300 halaman, buku ini seperti dokumen sejarah NU. Buku yang diangkat dari skripsi Cak Anam di IAIN Sunan Ampel Surabaya ini membahas NU sejak tahun 1926 hingga 1984.

Buku ini saya baca bab-perbab. Ini untuk menangkap suasana sejarah NU dengan baik. Saya tertarik membaca bab pertamanya yang sudah lebih dari 100 halaman. Jaman sekarang, ini bab sama seperti ketebalan satu skripsi utuh.

Saya menilai, kekuatan buku ini terletak di datanya yang sangat luas dan mendalam. Saya menilai hasil kerja riset Cak Anam yang disebut dikerjakan selama 4 tahun, benar-benar didukung dalam sajian datanya.

Tak cuma naratif, data juga ditampilkan secara visual. Foto-foto bersejarah yang disajikan buku ini mengesankan, dan mampu membawa pembacanya ke suasana batin setiap tahapan sejarah yang dibahas. Foto-foto tokoh NU dalam berbagai momen sejarah sangat memuaskan dahaga pengetahuan. Gara-gara PPNU lah saya jadi mengagumi Subchan ZE.

Bagi saya, buku Cak Anam ini bak perpustakaan NU yang lengkap. Tanpa harus membuka banyak sumber, kita sudah bisa memahami ketiga aspek NU secara cukup lengkap. Ini adalah buku induk tentang sejarah NU yang sangat layak dibaca terus oleh generasi sekarang, terutama para nahdliyin/nahdliyat yang ingin memahami sejarah jam’iyahnya. Buku babon ini adalah jasa besar Cak Anam pada NU.

Akal sehat saya menyebut sangat wajar bila kini Cak Anam, diakui menjadi pendiri dan pembina Pergerakan Penganut Khittah Nahdliyah (PPKN). Saking berdedikasinya pada pemikiran-pemikiran Gus Dur, wartawan senior ini sering melontarkan kritik kepada pengurus NU karena kecenderungan berpolitik praktis yang menurutnya terlalu kuat.

Membaca “buku berjudul Pertumbuhan dan Perkembangan Nahdlatul Ulama” yang diterbitkan tahun 1985 oleh Penerbit Jatayu, saya respek dengan kegigihan Cak Anam mengawal pemikiran Gus Dur, sampai era Cak Imin, jadi Ketua umum PKB, Ketua PBNU dipimpin Yahya Cholil Staquf dan GP Ansor dipimpin Yaqut Cholil Qoumas. ([email protected])