Ketiban Untung Dari Bisnis Kreasi Seni 3D Pop-Up

Dinda Arum Fatimah Dzatul Husada saat menyelesaikan kreasi kartu ucapan pesanan pelanggannya. SP/ TLG

SURABAYAPAGI.com, Tulungagung - Dinda Arum Fatimah Dzatul Husada ketiban untung dari bisnis kreasi kartu ucapan berbahan akrilik dan frame foto melalui seni 3D pop-up yang ia buat kini laris manis di pasaran dan seiring waktu, produknya yang ia labeli dengan nama giften.id semakin berkembang mengikuti tren.

Dia tak ingin kehilangan pasar yang telah dibangun dengan kerja kerasnya selama ini. "Tidak hanya pop-up frame saja, saya sekarang punya produk kreasi lain. Salah satunya pop-up stand berbahan akrilik yang cukup diminati," ucapnya.

Bagi Dinda, meski ucapan dapat disampaikan secara langsung atau menggunakan perangkat teknologi, namun menggunakan media pop-up juga masih sangat populer. Sebab, kreasi pop-up menghasilkan karya yang unik dan menarik.

Didalam pop-up tersebut berisi kolase foto yang membentuk tiga dimensi, membuat si penerima pop-up card atau pop-up frame lebih berkesan. "Selain ulang tahun, ada juga pemesan request untuk hantaran dan mahar pernikahan, kartu ucapan kelahiran, jabatan baru, wisuda, pernikahan, serta lainnya," jelas.

Pembuatan pop-up card dan pop-up frame sebenarnya relatif mudah. Namun, diperlukan kreativitas, imajinasi, dan ketelitian yang ekstra. Dinda mengaku selama ini tidak mengalami kesulitan berarti.

Namun, tak semua bahan dapat ia jangkau, beberapa bahan seperti akrilik terpaksa hunting ke luar kota karena tidak tersedia di Tulungagung. "Satu pesanan itu bisa diselesaikan tiga harian. Tergantung kerumitan desain dan ukurannya," terangnya.

Selama pandemi Covid-19 berlangsung, Dinda mengaku usahanya tidak terpengaruh. Buktinya, pesanan pop-up frame terus mengalir. Sebab, pemanfaatannya itu lebih ke momen dan hadiah. Bahkan, dalam seminggu dia mampu mendapat 15-35 pesanan dengan berbagai custom dan ukuran. "Kalau pas momen wisuda bisa sampai 35 pesanan," jelasnya.

Meski skala rumahan, kata Dinda, pemesan  banyak dari daerah Jawa Barat, Jakarta, dan kota besar lain. Pemasarannya sangat luas. Terlebih memanfaatkan media sosial (medsos) sebagai promosi.

"Paling jauh, pemesan dari Papua dan Batam, tapi yang banyak lokal. Kemudian kota besar seperti di Jakarta dan Jawa Barat," tuturnya.

Untuk harga, Dinda mengaku tidak mematok harga mahal. Apalagi pasar yang dibidik rerata anak sekolah atau mahasiswa. Yakni mulai Rp 30 ribu hingga Rp 200 ribu. Dsy3