Milenial China Tak Percaya Ramalan Shio

Umat Konghucu saat melakukan sembahyang di Klenteng Mhah Ratu, Minggu (24/01/2021). Foto: SP/Semmy

 

Sebagai Keturunan Tionghoa Politisi NasDem Vinsensius Awey, Ngaku Pelajari Ramalan Shio, Tetapi Tak Percayai Sepenuhnya

 

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya – Dalam Astrologi Tiongkok, Shio-shio identik dengan ramalan. Bahkan, sama dengan astrologi Yunani berupa zodiak seperti Sagitarius, Taurus, Aries, dan sebagainya. Seperti yang diturunkan pada harian kita, edisi Sabtu 23 Januari 2021 lalu, beberapa Suhu di Surabaya memberikan ramalan Shio di Tahun Kerbau Logam. Dalam ramalan para Suhu di Tahun Kerbau Logam, memprediksi kalau situasi ekonomi dalam era pandemi di Indonesia, bisa terpuruk dan bisa bangkit. Meski begitu, pada hakikatnya, ramalan bisa menjadi acuan bagi beberapa orang yang mempercayainya. Namun, tak sedikit sejumlah orang keturunan Tionghoa di Surabaya baik muda dan generasi milenial hingga generasi Z, menganggap ramalan Shio sebagai ilmu pengetahuan untuk memperluas wawasan.

Shio merupakan budaya Tionghoa, beragama Khonghucu yang turun-temurun masih dipercaya di setiap etnis yang tersebar di muka bumi.

Meski begitu, kurang dua pekan, etnis Tionghoa sudah mempersiapkan Tahun Baru Imlek 2572 ini. Dari pantauan Surabaya Pagi, Minggu (24/1/2021) pagi, di sepanjang pinggir jalan Demak, depan Klenteng Mbah Ratu berjejer mobil dengan berbagai merek.

Dari depan pintu Klenteng terlihat beberapa muda-mudi hingga usia lanjut mengoyang-goyangkan dupa sembari berdoa. Ada pula beberapa yang terlihat santai, menyantap panganan makan siang mereka.

Di ujung tempat sembahyang terlihat seorang berbaju biru muda dengan khusyuk berdoa. Pria berusia sekitar 70 tahun itu mengaku bernama Susanto. "Saya memohon keselamatan, bebas dari marabahaya, kayak penyakit, (bebas) dari hal-hal yang tidak baik terhadap saya," kata Susanto, Minggu (24/01/2021) ditemui di Klenteng Mbah Ratu.

 

Kekuatan Dewa China

Kekuatan doa kata Susanto memang tidak dapat dibuktikan secara ilmiah, namun dari pengalamannya hampir 70 persen apa yang menjadi permohonannya menjadi kenyataan.

"Untuk kekuatan para dewa-dewi sudah kita buktikan. Karena terbukti ini baru kita percaya," katanya

Saat ditanyai apakah ia percaya akan ramalan dan shio, Sutarno mengaku hal tersebut sudah menjadi tradisi yang diturunkan secara turun temurun dari para leluhur.

"Karena itu tradisi dari nenek moyang kita, apalagi ajaran Thao mengajarkan untuk ramalan-ramalan termasuk shio, fengsui memang ada. Kita ikuti tradisi dari leluhurlah," katanya.

Soal kebenaran shio dan ramalan yang telah menjadi tradisi dari leluhur, Ketua Umum Klenteng Mbah Ratu Hartadi Tanoewijaya mengaku sangat sulit dibuktikan.

Menurutnya shio dan ramalan mengandung energi yang tidak dapat dibuktikan secara ilmiah. Bagi masyarakat yang menyakini ramalan dan shio tersebut maka ramalan tersebut akan terjadi. "Shio itu kembali kepada kepercayaan. Kalau ada yang percaya maka bisa terjadi, kalau ada yang tidak percaya ya tidak akan terjadi," kata Hartadi.

 

Dijadikan Referensi

Sedangkan, ramalan Shio sendiri oleh Vinsensius Awey, politisi Partai NasDem dijadikannya sebagai wawasan dan referensi.  Menurut Awey, dirinya sudah dari dulu mempelajari tentang ramalan Shio, tetapi tidak percayai sepenuhnya

"Dari dulu saya sudah sering membaca (ramalan), dan sedikit banyak mengetahui. Tapi saya tidak mempercayainya," ujar mantan anggota DPRD Kota Surabaya pada periode 2014-2019 itu, kepada Surabaya Pagi, Minggu (24/1/2021).

Seringkali masyarakat yang mempercayai ramalan Shio mencari informasi tentang keberuntungan dirinya. Bahkan, ramalan Shio secara detail memprediksi hari maupun tanggal baik yang membawa keberuntungan. "Jadi, menurut saya semua hari itu baik. Tergantung cara kita mempersiapkan dan menjalani hari tersebut," ujar pria yang menjabat Wakil Ketua DPW Nasdem Jawa Timur di Bidang Media dan Komunikasi Publik.

 

Sugesti Setiap Manusia

Awey mengaku tidak pernah menggantungkan dirinya pada ramalan Shio. Hal itu disampaikan karena, setiap manusia hidup bebas memilih dan menentukan pilihannya. "Pada dasarnya manusia bebas menentukan dan memilih. Kalau bergantung pada Shio, hidup manusia tidak akan bisa bebas dan terlalu banyak hal rumit yang dipikirkan," terangnya.

Sugesti seseorang seringkali muncul ketika mempercayai ramalan Shio. Bahkan tidak sedikit orang yang menganggap bahwa keberhasilannya adalah bagian dari ramalan Shio.

Namun, tambah Awey, yang menjadi pertanyaan besar adalah, jika ramalan yang dipercayai terbukti salah, maka akan timbul pertanyaan besar bukan ?. “ Sekarang kalau ramalannya gak terbukti, apakah yang bersangkutan harus ganti Suhu? Apakah ada jaminan ketika kita mempercayai ramalan Shio?," kata Vinsensius.

Untuk itu, Awey memberi pesan, jangan terlalu strick mengandalkan ramalan Shio. Menurutnya, masyarakat akan semakin lemah dan tak percaya Tuhan. "Seperti yang kita ketahui, bahwa pemberian Tuhan sangat luar biasa. Kita diberi kekuatan, otak dan pikiran. Kalau mengandalkan Shio, kita bisa-bisa akan lemah karena tidak mengandalkan pemberian Tuhan," tuturnya.

Tambah Awey, Tuhan adalah arsitek yang hebat. Selain bisa memberikan anatomi tubuh pada manusia, Tuhan juga mengizinkan detail anatomi tersebut untuk bergerak semestinya.

"Jadi boleh lah, kalau mempelajari, mengetahui, misal Shio, Fengshui, atau Hongshui. Tapi bukan berarti mempercayai. Semua bergantung pada kita yang menjalani. Selalu berusaha, dan andalkan kekuatan ilahi," pungkasnya.

 

Anak Milenial Tak Percaya Shio

Tak jauh berbeda, beberapa anak milenial keturunan Tionghoa yang ditemui Surabaya Pagi, tak mempercayai ramalan Shio seperti budaya Tionghoa.

Salah satunya, Garcia, pengusaha muda berusia 23 tahun ini tidak pernah percaya dengan ramalan, termasuk ramalan Shio. Ditambah lagi, dirinya menilai, agama yang dianutnya juga sudah cukup kuat untuk menjadi pedoman hidup, sehingga tak perlu mengandalkan ramalan Shio.

"Kalau baca-baca ramalan Shio sih sering. Buat asik-asikan aja waktu nongkrong dan tentunya gak sampai mempercayai," kata pria berusia 23 tahun itu.

Meski ramalan Shio sering nampak di feed media sosial anak milenial, Garcia hanya menganggap hal itu sebagai hiburan semata. "Sering muncul sih di sosmed, ya saya anggap itu hiburan. Saya lebih percaya dengan usaha diri saya sendiri, tentunya dibarengi dengan doa," terangnya.

Meski terlahir dari keturunan Tionghoa, Garcia tak pernah mempertimbangkan kekuatan dari ramalan. Termasuk dalam hal jodoh, rezeki, ajal, maupun aspek kehidupan yang lainnya.

Pria asal Surabaya itu juga mengaku telah di didik untuk percaya pada agama dan Tuhannya. "Sejak kecil saya di didik untuk belajar agama, percaya dengan Tuhan dan menyerahkan semua kepada-NYA," terang Garcia.

Sebagai milenial, Garcia berpesan pada anak muda yang lain agar, "Sebisa mungkin manfaatkan kelebihanmu. Mumpung masih muda, selalu berusaha dan berdoa," tutup Garcia.

 

Tionghoa Suka Kerja Keras

Senada juga diungkapkan Natasha Alexandra, mahasiswa Kedokteran Universitas Airlangga, tak begitu mempercayai akan ramalan dan shio.

Mahasiswa keturunan Tionghoa semester 4 menegaskan, yang menjadi ukuran keberhasilan seseorang adalah kerja keras mereka. "Ya semuanya kan dari usaha kita, kalau kita kerja keras pasti berhasil. Karena usaha tidak membohongi hasil. Ada yang shionya bagus tapi kenyataan di lapangan orangnya soro juga," kata Natasha.

Sama seperti Natasha, Ellen Prasanti juga mengaku demikian. Menurutnya shio dan ramalan hanya sebagai petunjuk baginya dalam bertindak.  Terkait apakah shio itu baik atau tidak, bukan menjadi tolak ukur keberhasilan atau kesuksesan seseorang.

"Kan ada yang bilang shio ular itu bagus, atau shio kerbau itu bagus, nah kita yang miliki shio itu jadikan patokan saja dalam bertindak. Kalau gagal ya mungkin usahanya belum maksimal," kata Ellen.

Wanita yang saban hari bekerja sebagai Marketing di salah perusahaan alat kesehatan itu mengaku, selama ini ia mengikuti ramalan-ramalan dari Suhu. Namun ia tidak 100 persen yakin dengan ramalan tersebut. "Sekarang kan sudah modern mas, keberhasilan kita dari usaha kita. Kalau soal tradisi memang itu benar mas, tapi balik lagi ke orangnya masing-masing kan," ucapnya. mbi/sem/cr2/rmc