Hari Terakhir Larangan Mudik

Pemudik Bebas Masuk Surabaya

Kendaraan pribadi melaju dari pulau Madura menuju Surabaya di Jembatan Suramadu, Kota Surabaya, Jawa Timur, Senin (17/5). SP/patrick cahyo/arlana byob

 

Pengakuan Pemudik yang Balik Lagi ke Surabaya, di Jembatan Suramadu dan Bunderan Waru Cito, Senin Kemarin "Dilonggarkan" Tak Ada Pemeriksaan. Sementara Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa Langsung Terapkan Masa Pengetatan Mulai Selasa Hari ini Hingga 24 Mei Mendatang hingga Kampung Tangguh di Tingkat RT-RW 

 

 

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Senin (17/5/2021) kemarin, berakhirnya larangan mudik yang telah ditetapkan oleh pemerintah. Setiap pintu masuk wilayah, dijaga ketat dengan diberlakukannya pembatasan. Namun, pada hari terakhir Senin kemarin, justru tidak terlihat adanya pemeriksaan secara ketat. Bahkan, di Jembatan Suramadu, dengan bebas keluar masuk tanpa ada pemeriksaan ketat. Jadwal pemeriksaan surat bebas Covid-19 pun hanya dilakukan pada pukul 13:00 hingga 14:00 WIB. Selebihnya, bebas keluar masuk. Tak hanya di Jembatan Suramadu, di selatan Surabaya, tepatnya bunderan Waru Cito pun, tidak ada pemeriksaan yang signifikan. Para pemudik yang balik ke Surabaya dengan bebas bisa masuk tanpa pemeriksaan surat bebas negatif Covid-19. Hanya saja, mulai tanggal 18 Mei hingga 24 Mei 2021 mendatang, pemerintah menerapkan program pengetatan dari pintu masuk hingga kampung tangguh.

Seperti yang dialami tiga pemudik yang baru datang di Surabaya. Ketiga pemudik itu, tiba di Surabaya, Senin (17/5/2021) kemarin, tanpa ada hambatan atau pemeriksaan di pintu masuk kota Surabaya. Bahkan pemeriksaan terkait surat bebas negatif Covid-19 pun tak dialaminya.

Seperti diungkapkan Winarsih, perempuan yang baru saja mudik ke kampung halamannya di Pare, Kediri. Ia kembali lagi ke Surabaya untuk kembali bekerja.

"Selama perjalanan, lancar tidak ada hambatan mas. Sudah kadung bawa surat antigen dari Puskesmas di Kediri juga. Tapi masuk disini (Surabaya) tidak ada pemeriksaan apa-apa," kata Winarsih, kepada Surabaya pagi, Senin (17/5/2021).

Win, yang datang kembali ke Surabaya bersama dengan kerabatnya Marni, menggunakan kendaraan travel jenis minibus berpenumpang 8 orang. Hanya saja, di dalam travel tersebut, hanya diisi 6 orang, termasuk dirinya dan kerabatnya itu.

Hanya saja, selama perjalanan dari Kediri, travel yang ia kendarai melewati jalan-jalan alternatif. Namun, saat tiba di Surabaya, tetap melewati bunderan Waru Cito Surabaya.

"Sempet lewat jalan kecil kecil gitu. Tapi yah disini tadi, lewat mal Cito itu lho mas. Wis gak ada pemeriksaan apa-apa kok. Aman. Padahal awalnya sempet berpikiran akan diperiksa macem-macem," jelas wanita yang tinggal di daerah Surabaya Barat itu.

Apa yang dialami Winarsih juga dialami oleh Muchlis, yang baru saja datang dari Trenggalek. Mengendari motor, dirinya bisa masuk kota Surabaya tanpa ada pemeriksaan.  Bahkan, apa yang dikatakan Winarsih, di bunderan Waru Cito juga bebas tidak sampai ada pemeriksaan terkait masih larangan mudik.

"Beruntung tadi (kemarin, red) tidak ada pemeriksaan. Jadi ini sampai kosan, bisa istirahat dengan tenang," jawab Muchlis, kepada Surabaya Pagi, Senin kemarin.

 

Ketat di Kampung Tangguh

Hal senada juga diungkapkan Handoko, pria baru saja mudik dari Sampang, Madura. Dirinya balik ke Surabaya mengajak seorang teman yang ingin kerja, mengendarai motor roda dua. "Di Suramadu itu, bebas sama sekali gak ada pemeriksaan sama sekali. Padahal, katanya tiap jam bakal ada pemeriksaan. Tapi bebas kok," kata Handoko, Senin (17/5/2021).

Tetapi, tambah Handoko, baru ada pemeriksaan dan pendataan saat tiba di rumahnya di Surabaya, di wilayah Tambaksari Surabaya. Kampung Tangguh di RW Tambaksari Surabaya, justru mengecek dan mendata surat bebas negatif Covid-19.

"Justru tadi baru dicek sama orang kampung tangguh sini. Bareng pak RT juga. Untung saya udah bawa. Negatif juga," jawabnya dengan logat Maduranya.

Apa yang dialami Handoko di kampung kawasan Tambaksari juga diberlakukan di beberapa wilayah Surabaya. Salah satunya Kampung Tangguh Rungkut Mapan Barat Surabaya.

Hal ini dialami oleh Wahyu Kuswanda, warga Rungkut Mapan Barat ini baru saja menunjukkan hasil tes antigen di Kampung Tangguh Rungkut Mapan Barat.

"Saya saja. seminggu 2 kali  tes antigen karena baru bolak-balik Surabaya-Jakarta," kata Wahyu.

Jadi dari hasil rapid antigen nanti diharapkan warga yang kembali dari perjalanan mudik dapat kembali berbaur dengan warga dengan aman.

"Meski belum ada omong-omongan terkait aturan bagi warga yang kembali setelah perjalanan mudik, kami tetap akan menerapkan prokes dengan ketat demi kenyamanan warga," tandasnya.

 

38 Orang Positif Covid-19

Sementara, dari laporan evaluasi yang dilakukan Pemprov Jatim. Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa mendapat laporan, selama larangan mudik sejak tanggal 6 Mei hingga 17 Mei 2021, hanya 38 orang yang positif Covid-19.

Hal ini diungkapkan Kepala Dinas Kesehatan Jawa Timur Herlin Ferliana, di Kantor Dinas Perhubungan Jatim, Senin (17/5/2021).

“Lapor Ibu, hanya ada 38 orang yang positif rapid antigen saat dilakukan screening di beberapa titik penyekatan mulai 6-17 Mei 2021,” kata Herlin memberikan pemaparannya kepada Gubernur Khofifah.

Herlin pun merinci yang 38 orang positif rapid antigen itu didapat dari Poskes di Kota Kediri 9 orang, Tuban 7, Ngawi 6, Kab Malang 4 dan Kab Pasuruan 4.

Kemudian, Lamongan, Ponorogo, Kabupaten Kediri, Gresik, Magetan, Kabupaten Madiun, Sidoarjo, Bondowoso masing-masing 1 orang. “Untuk pos penyekatan di Suramadu nihil yang positif rapid antigen Bu,” ujar Herlin.

Kepala UPT Dishub Jatim di Bangkalan, Wahab melalui virtual juga mengatakan tidak adanya orang Madura yang diperiksa dan nihil positif rapid antigen.

Gubernur Khofifah menanggapi nihilnya atau tidak ada orang Madura yang positif rapid antigen saat masuk Surabaya melalui Jembatan Suramadu. “Orang Madura itu sakti-sakti,” katanya setengah bercanda.

 

Masa Pengetatan

Sementara itu, Khofifah menyampaikan bahwa masa larangan mudik berakhir. Kini, mulai 18 Mei 2021 hari ini hingga 24 Mei 2021 mendatang, akan diberlakukan pengetatan sesuai dengan Adendum Surat Edaran No. 13 Satgas Covid-19.

Menurut Khofifah, Semua harus dilakukan kewaspadaan berganda untuk mencegah hal yang tidak diinginkan terutama pada 14 sampai 21 hari pasca 1 Syawal 1442 H atau 13 Mei 2021.

Karenanya, mantan Mensos RI itu meminta Kepala Dishub dan Dinkes Jatim untuk terus bersinergi dan siap siaga mengendalikan penyebaran Covid-19 di Jatim. Dalam hal ini, Dinkes Jatim bertugas sebagai hilir, Dishub sebagai hulu dalam pencegahan Covid-19. Artinya, antisipasi dan mitigasi tidak hanya dilakukan Dishub Jatim, tetapi harus dilakukan secara teknis oleh Dinkes Jatim.

“Terima kasih seluruh tim Dishub dan Dinkes Jatim. Kerja keras seperti ini harus terus disinergikan. Dalam posisi seperti ini, Dinkes harus menyatu dengan gerak Dinas Perhubungan Jatim. Jadi hulunya klir, hilirnya klir. Ada kesiapsiagaan antara Dinas Kesehatan dan Dinas Perhubungan,” jelas gubernur perempuan pertama di Jatim ini.

Khofifah mencontohkan, salah satu bentuk sinergi yang bisa dilakukan yaitu ada penyiapan Rapid Antigen dan Genose dari Dinas Kesehatan Jatim pada titik-titik UPT Dishub Jatim seperti di terminal, pelabuhan dan Bandar Udara Abdul Rachman Saleh Malang.

 

Polrestabes Siapkan Tes Gratis

Terpisah, Polrestabes Surabaya akan menyiapkan tes swab antigen secara gratis. Pernyataan ini diungkapkan Kasat Lantas Polrestabes Surabaya AKBP Teddy Chandra, Senin (17/5/2021).

"Diharapkan bagi warga yang akan kembali ke Surabaya agar melengkapi dirinya dengan membawa hasil test swab sebagai bukti dirinya bebas Covid-19," ujar Kasatlantas, Senin (16/7).

Teddy menambahkan jika warga yang kembali ke area Surabaya belum memiliki surat hasil swab antigen Covid-19, polisi akan menyediakan swab antigen gratis yang berada di Pos Cito Masuk Surabaya.

"Kami akan bekerja sama baik dengan pihak puskesmas maupun urkes Polrestabes Surabaya untuk menyediakan swab antigen gratis kepada warga," lanjut AKBP Teddy.

Di tempat terpisah Kasubbag Humas Polrestabes Surabaya AKP Muhammad Fakih juga mengimbau pemudik yang kembali ke wilayah Surabaya untuk melakukan isolasi mandiri di Posko Kampung Tangguh terlebih dahulu.

Warga juga diimbau untuk melapor ke pihak RT maupun Bhabinkamtibmas atau Babinsa agar terdata dengan baik. Faqih menyatakan, polisi akan mendatangi warga yang kembali ke wilayah Surabaya usai mudik.

Kepada warga yang usai mudik, akan dilakukan 3T, yakni tes Covid-19 (testing), penelusuran kontak erat (tracing), dan tindak lanjut berupa perawatan pada warga yang terpapar Covid-19 (treatment). Hal tersebut akan dijalankan Bhabinkamtibmas, Babinsa, maupun pengurus RT. sem/pat/fm/byb/cr2/rmc