Sukses Bisnis Siomay Sombong Tanpa MSG

Deddy Huang. SP/ SBY

SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Deddy Huang memberanikan diri untuk bisnis kuliner, yakni Siomay Sombong di tenga pandemi Covid-19. Sebagai pedagang siomai yang sudah berpengalaman lebih dari 20 tahun, rasa dan kualitas tidak perlu diragukan. Awalnya, Deddy hanya ingin membantu mengembangkan bakulan siomai untuk dipasarkan melalui media sosial, kini ia sukses dengan bisnisnya tersebut.

“Dengan pengalaman dan pengetahuan di bidang digital marketing, saya mencoba bikin brand baru bernama Siomay Sombong, dengan produk yang menjual siomai kuah kacang dari olahan ikan tenggiri dan gabus tanpa MSG,” paparnya.

Varian Siomay Sombong milik Deddy Huang. SP/ SBY

Strategi yang dilakukan untuk masuk digitalisasi, mulai dari branding, membuat konten promosi. “Kami hanya berjualan berdasarkan sistem open pre-order (PO) setiap minggu. Dalam setiap PO kami tidak membuka banyak orderan hanya sekitar 15 pak saja. Sehingga pembeli bisa memesan jauh-jauh hari, karena siomai pun dibuat sangat fresh saat dikirim,” katanya.

Pemasaran yang dilakukan dengan membuat konten promosi lewat Instagram, ads, dan marketing mulut ke mulut. “Satu bulan sudah, Siomay Sombong sudah bisa menjual lebih dari 1.000 siomai. Angka yang cukup baik untuk pemula,” ucapnya.

Menurutnya, untuk membuat branding, masyarakat butuh satu nama yang mudah diingat dan eye catching. “Sombong sendiri melambangkan bagaimana cara teman saya ketika dia sudah penuh orderan maka dia tidak segan untuk menolak, atau kalau sedang tidak mendapat bahan baku ikan yang segar, dia pun memilih tidak membuat demi menjaga rasa,” katanya.

Saat ini Deddy harus berpikir keras untuk memenuhi kuota slot orderan. Sebab, hal tersebut akan berdampak kepada bahan baku saat dibuat dan sudah ada takarannya. “Kalau sudah begitu, saya harus lebih naikkan lagi untuk promosi, termasuk menawarkan secara personal ke teman-teman,” ucap Deddy.

Dia juga selalu memperhatikan kualitas makanan yang dijualnya. “Saya sangat menjaga higienis dan customer journey agar saat menikmati makanan dapat sesuai dengan ekspektasi yang kami harapkan. Sesuai slogan kami, Biar Mahal Tetap Sombong,” imbuhnya.

Dia juga berpesan kepada masyarakat bahwa pandemi membuat semuanya harus tetap usaha dalam survival mode. “Secara tidak langsung saya ikut membantu perputaran ekonomi lokal mulai dari teman saya, lalu pedagang pasar untuk tetap berjualan. Kemudian, saya ingin orang-orang memiliki taste yang baik dalam mencari makanan sehat dan bergizi,” tutupnya. Dsy2