Ortu Senang Bercampur Cemas

Gambar visual by SP

Jenuh Sistem Pengajaran Daring Selama ini yang dirasa tak Efektif. Para Orang Tua Siswa Surabaya Berharap kegiatan belajar mengajar (KBM) di tengah pandemi Covid-19 Jangan Timbulkan Klaster baru ke Anak-anak

 

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya- Sejumlah orang tua murid warga kota Surabaya, menyambut rencana kegiatan belajar mengajar (KBM) tatap muka di sekolah dengan perasaan senang bercampur cemas. Kecemasannya, karena kota Surabaya belum dijamin berzona hijau saat pandemi Covid-19. Sekolah Dasar Al Falah, Surabaya, malah sudah memberitahu ke orang tua siswa akan KBM tatap muka dua kali seminggu dengan protokol kesehatan ketat.

Diantara orang tua siswa minggu ini ada yang melakukan perlindungan terhadap anak-anaknya, agar terhindar dari penularan Covid-19 di sekolah.

Kegiatan Ortu, terus mencari tahu daerah yang masuk zona hijau dan zona orange. Maklum kebanyakan ortu belum menjamin sekolah di zona hijau dan orange aman. Mereka malah khawatir muncul klaster baru di lingkup sekolah anaknya.

 

Belajar daring Kurang Efektif

Rahayu Sulistyowati , salah satu siswa SD mengatakan dirinya merespon positif dan senang dengan akan dibukanya kembali kegiatan belajar mengajar (KBM) tatap muka meski di beberapa wilayah Surabaya masih Zona merah.

Rahayu merasakan  sistem pembelajaran daring dirasa kurang efektif.” Anak sekolah itu perlu pemahaman langsung dari guru” kata Rahayu di Kawasan Kedung Baruk, Rungkut, Surabaya, Kamis (13/8/2020).

Sedikit berbeda dengan apa yang dirasakan Mahendra.  Salah satu orang tua siswa yang bersekolah di SMA swasta di Kota Surabaya ini mengaku khawatir dengan kondisi kesehatan anaknya jika nanti harus melakukan kegiatan belajar di sekolah.

"Kalau khawatir ya jelas khawatir. Tapi kalau misalnya belajar online terus juga tidak mungkin. Misalnya akhirnya sekolah dibuka, menurut saya gurunya harus benar-benar mengawasi muridnya," ujar salah satu warga Pucang Anom tersebut.

Namun dirinya juga tidak sanggup jika anaknya harus melaksanakan pembelajaran daring tersebut. Selain terjadi pembengkakan biaya untuk membeli paket internet, Mahendra dan sang istri juga tidak punya cukup waktu untuk mengawasi anaknya saat belajar di rumah.

"Sebenarnya saya bingung. Karena saya dan istri juga punya kesibukan pekerjaan masing-masing, jadi tidak bisa optimal dalam mengajari anak saat belajar di rumah. Tapi disisi lain, Covid-19 ini belum reda," ungkapnya.

Saat ditanya mengenai lebih baik mana belajar di rumah atau di sekolah, Mahendra berkata jika lebih baik belajar di sekolah namun menekankan kepada anaknya untuk mematuhi protokol kesehatan.

"Sejauh ini saya merasa jika lebih baik belajar di sekolah. Yang penting berpesan kepada anak-anak untuk tetap memakai masker, rajin cuci tangan, dan jaga jarak," jelasnya.’

Orang tua lainnya, Firdinika Rosalita Dewi, mengaku sangat tidak setuju kalau anak-anak kembali bersekolah. Apalagi di luar pulau ada kejadian penyebaran di tingkat SMA, guru yang terpapar positif 8 bahkan muridnya puluhan. Dia tidak menyetujui jika KBM tatap muka di lakukan.

“Saya sama sekali tidak setuju, yang bahaya kan OTG (orang Tanpa Gejala) bagi anak kecil kan tidak tahu bagaimana pyshcal distancing atau sosial distancing. Apalagi untuk anak saya Azkadina Keyzia R yang masih sekolah di SDN Lidah Kulon 1 Surabaya kelas 1 satu , ataupun yang kelas 4 dan kelas 5 aja  belum tentu bisa diatur, mengerti jaga jarak yang sebenarnya dengan teman.

Dia melanjutkan ketika nanti diaktifkan lagi KBM ini akan menjadikan kesenangan bahkan euforia bagi anak – anak yang lama tidak ketemu dengan temannya. Hal ini tidak diinginkan oleh orang tua karena jauh dari pengawasan.

“Tidak bisa dibayangkan jika KBM tatap muka kembali dibuka, sama saja mempertaruhkan nyawa anak Sekarang anak – anak keluar rumah tanpa memakai masker, padahal kenyataannya bahayanya jelas sekali didepan mata,”tuturnya.

 

Tak Punya Banyak Pilihan

Kekhawatiran serupa juga dirasakan, Joko Hermanto. Meski demikian, dia tetap membiarkan anak-anaknya berangkat ke sekolah jika sudah diperbolehkan tatap muka.

"Tentu saja ada kekhawatiran. Orang tua mana yang gak khawatir. Tapi mau bagaimana lagi. Anak-anak harus sekolah, pendidikan adalah kebutuhan. Jadinya kami ikut saja bagaimana keputusan pemerintah," ujar Joko kepada Surabaya pagi, (13/8/2020).

Slamet juga sama dengan Joko. Ia menjelaskan rasa khawatir yang besar dirasakannya saat ini. Namun ia tetap memperbolehkan anaknya mengikuti KBM tatap muka, asalkan protokol kesehatan yang diterapkan di sekolah sesuai standard yang di anjurkan pemerintah.

"Kembali ke sekolah secara normal adalah tindakan yang benar, namun semua harus didasarin protokol kesehatan. Agar anak-anak tetap terhindar dari virus," ujarnya.

Sementara itu, salah orang tua siswa bernama Setyorini, mengatakan akan memperbolehkan anaknya jika harus melaksanakan KBM tatap muka di sekolahnya.

"Menurut saya tergantung orang tua masing-masing siswa saja. Kalau saya pribadi, membolehkan jika anak saya harus belajar di sekolah. Karena dia juga sudah mengeluh ingin berkumpul dengan teman-temannya," ujarnya kepada Surabaya Pagi di hari yang sama.

Salah satu orang tua siswa SMPIT AL Uswah ini juga menjelaskan jika hal yang terpenting adalah membekali masing-masing anak dengan pesan-pesan untuk menaati protokol kesehatan.

"Kan dua-duanya ada plus minusnya juga, tapi yang penting adalah pembekalan anak untuk menaati protokol kesehatan saat keluar rumah dan dimana pun termasuk di sekolah," jelasnya.

Dirinya juga menambahkan jika anak sudah menyerap pesan-pesan orang tua, maka nantinya dirinya sebagai orang tua tidak perlu khawatir anaknya tidak patuh protokol kesehatan saat di sekolah.

Setyorini juga berharap adanya pengetatan pengawasan terhadap siswa siswi dari pihak sekolah agar selalu menjaga protokol kesehatan. Hal ini dikarenakan untuk mengantisipasi adanya siswa yang tidak mematuhi protokol kesehatan baik disengaja maupun tidak.

"Tentu jika ada keputusan seperti itu dari pemerintah, harusnya juga disertai dengan aturan-aturan yang jelas untuk pihak sekolah. Dan pihak sekolah juga harus mengetatkan pengawasannya kepada siswa siswinya," tegasnya.

 

Simulasi Tatap Muka

Salah satu perwakilan dari Sekolah Menengah Kejuruan Negeri, yaitu SMKN 6, Kamis (13/8/2020) melakukan simulasi tatap muka dengan menekankan protokol kesehatan.

Wakil Kepala Sekolah bidang Kesiswaan, Istiowati mengatakan bila langkah-langkah yang dipersiapkan sudah sesuai dengan protokol kesehatan.

"Jadi siswa sebelum masuk sekolah ada surat keterangan sehat dari orang tua," ungkapnya kepada Surabaya Pagi

SMKN 6 juga membuka 3 pintu sebagai akses keluar masuk para siswa. Pintu Utara diepruntukkan kepada murid pejalan kaki atau murid yang menggunakan transportasi umum, kemudian pintu Selatan untuk para siswa yang membawa sepeda motor, dan Timur sebagai akses siswa yang diantar jemput oleh orang tua.

Siswa SMKN 6  yang berjumlah 2.340 siswa dengan 8 jurusan, nantinya akan menjadi sebanyak 72 rombongan kelas belajar.

"Kami masih nunggu surat apakah sekolah bisa kembali tatap muka," katanya.

Secara pribadi, Istiowati berharap bila KMB tatap muka dapat segera diberlakukan, sebab pada jenjang SMK banyak kesulitan bila proses belajar mengajar menggunakan sistim daring.

Terpisah, Anggota Dewan Pendidikan Jawa Timur, Isa Ansori menjelaskan bila pada data yang dirujuk oleh Pemerintah Provinsi kemarin, menunjukkan bila tingkat kesembuhan mencapai 72,2% lalu untuk Kota Surabaya mencapai 68%.

"Sehingga berangkat dari data yang ada, penanganan Covid sudah mengalami progres perbaikan, kalau meningkat maka kebijakan juga harus berubah,"jelasnya.

Isa Ansori juga mengatakan bahwa sekolah ditutup pada bulan Maret karena peta persebaran Covid masih tinggi, namun saat ini sudah mengalami peningkatan kesembuhan.

Dirinya juga berharap untuk bidang pendidikan, harus mengalami perubahan kebijakan. Sebab ada banyak persoalan dari proses belajar jarak jauh.

Terpisah, SMA 2 Petra Surabaya yang terletak di Jalan Raya Manyar Tirtoasri, Klampis Ngasem hingga kemarin, masih sepi karena para siswa masih sedang berada di rumah untuk melaksanakan pembelajaran daring. Hal ini dikonfirmasi oleh pihak sekolah melalui Humas SMA 2 Petra.

"Sejauh ini siswa-siswi disini masih belajar daring. Begitu pun sekolah lainnya. Ini sudah kami terapkan sesuai dengan instruksi dari yayasan pusat," ujarnya kepada Surabaya Pagi, Kamis (13/8/2020).

Saat Surabaya Pagi menanyakan bagaimana langkah selanjutnya dari pihak sekolah untuk kedepannya jika Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) tatap muka sudah diperbolehkan, pihaknya masih menunggu instruksi dari Yayasan Petra pusat.

"Mengenai KBM tatap muka kedepannya, kami masih belum bisa jawab karena belum ada instruksi lebih lanjut dari pusat. Mungkin lebih enaknya jika langsung ditanyakan ke PPPK Petra di Jalan HR Muhammad," pungkasnya. adt/byt/ptr/tian