Home / Hukum dan Kriminal : Dokter Gadungan Kelabui RS PHC dan IDI

Belajar Istilah Kesehatan dari YouTube, Incar jadi Dokter First Aid

author surabayapagi.com

- Pewarta

Kamis, 14 Sep 2023 20:57 WIB

Belajar Istilah Kesehatan dari YouTube, Incar jadi Dokter First Aid

Susanto, seorang dokter gadungan yang menyamar menjadi dokter 'resmi' selama dua tahun di RS PHC ternyata juga mengelabui Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Surabaya. Selama dua tahun ini, Susanto, berpraktik sebagai dokter abal-abal hanya berbekal belajar dari YouTube dan Googling di dunia maya. Tak heran, ia bisa lolos verifikasi dokter dan bekerja di salah satu klinik dibawah binaan RS PHC Surabaya. Kok Bisa?

 

Baca Juga: Pasutri di Mojokerto Dipolisikan dalam Kasus Investasi Bodong

SURABAYA, M. Ilham & Budi Mulyono

 

Selama 2 tahun, Susanto tak pernah kepergok atau ketahuan kalau dirinya hanya dokter abal-abal yang lulusan SMA. Susanto bekerja di klinik milik PT Pelindo Husada Citra (PHC) mengaku sebagai dr Anggi Yurikno.

Bahkan baik nama Susanto dan dr Anggi juga tidak terdaftar. Sebab, dua nama itu tidak berpraktik di fasilitas layanan kesehatan di Surabaya.

Ketua IDI Surabaya Dr dr Brahmana Askandar SpOG(K) menegaskan pihaknya memiliki sistem untuk mencari tahu identitas dokter tersebut. Saat kasus dokter gadungan ini mencuat, pihaknya langsung mengetahui jika nama-nama yang disebut tidak ada ditemukan.

"Yang jelas yang saya klarifikasi, kasus ini meledak kami punya sistem yang baik di IDI Surabaya, jadi gampang menelisiknya," kata dr Brahmana dalam konferensi pers online klarifikasi dan penjelasan mengenai kasus dokter gadungan, Kamis (13/9/2023).

Dia menegaskan, IDI Surabaya tidak memiliki anggota atas nama dr Anggi. Apalagi nama Susanto ditegaskan tidak ada. "Jelas saja, namanya juga dokter gadungan, tidak ada di anggota kami," ujarnya.

 

Tak Keluarkan Izin

Pria yang juga dokter spesialis obgyn ini juga tidak pernah mengeluarkan surat izin praktik dokter gadungan tersebut. "Kami tidak pernah mengeluarkan rekomendasi surat izin praktik untuk dokter gadungan tersebut dan dokter yang dipalsukan. Izin praktiknya bukan di Surabaya (dr Anggi) mungkin dari IDI cabang lain akan mengklarifikasi," tegasnya.

Pihaknya juga menyebut, pihak PT PHC juga telah melakukan klarifikasi. Dan lokasi tempat bekerja dokter gadungan itu ada di daerah lain.

"RS di Surabaya sudah ada klarifikasi dari Direktur PT PHC. Meskipun posisi RS PHC di Surabaya, tapi ternyata praktiknya bukan di Surabaya," pungkasnya.

 

Belajar dari YouTube

Sementara, Susanto, saat menjadi dokter gadungan selama dua tahun, meski lulusan SMA, ia paham dengan istilah kedokteran setelah banyak belajar otodidak dari YouTube.

Hal ini diungkap oleh Kasi Intel Kejari Tanjung Perak Surabaya, Jemmy Sandra, Kamis (14/9/2023).  Betapa tidak, Susanto berhasil lolos tes psikologi hingga wawancara dalam seleksi menjadi dokter umum di klinik milik PT Pelindo Husada Citra (PHC). Dalam wawancara tersebut, Susanto juga bisa menjawab dengan lancar sejumlah pertanyaan seputar medis.

Susanto akhirnya menjadi dokter di Klinik Occupational Health & Industrial Hygiene (OHIH), tepatnya di Klinik K3 PT Pertamina EP IV Cepu selama 2 tahun. Ternyata, selama ini ia belajar secara otodidak di YouTube.

"Dia bisa cek tensi dan lain-lain yang hal-hal dasar secara otodidak. Menurut pengakuan dia, tidak pernah belajar ilmu kedokteran secara khusus di kampus, tapi belajar secara otodidak melalui YouTube, lalu punya teman-teman di lingkungannya ada dokter dan perawat, dia juga belajar dari situ," ujar Jemmy

 

Incar Dokter First Aid

Baca Juga: Perempuan di Surabaya Tertipu Investasi Bodong Skincare, Rugi Rp 60 Juta

Namun, Susanto mengatakan, ia sengaja mengincar jabatan sebagai dokter first aid atau dokter yang hanya memeriksa kesehatan pegawai. Sebab, ia hanya bisa mempelajari ilmu dasar dari kedokteran saja, salah satunya seperti mengecek tekanan darah.

"Menurut pengakuan dia (Susanto), memang yang diincar adalah lowongan di dokter first aid. Karena kan tugasnya hanya mengecek kesehatan karyawan, sehingga tidak pernah mengeluarkan resep dan mengobati," kata Jemmy.

Susanto juga mengaku tak pernah mengalami kesulitan. Saat ditemukan kendala, ia langsung bertanya ke perawat atau searching melalui dunia maya dan aplikasi kesehatan lainnya.

"Menurut pengakuannya, kalau kepepet dia tanya karyawannya atau aplikasi kesehatan, dia mengakui semua perbuatannya. Karena sudah sering melakukan berkali-kali dan tentu sudah pengalaman ya, sehingga melakukan penipuan ke RS dan puskesmas," tuturnya.

 

Disorot Kemenkes

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) turut menyoroti kasus Dokter Gadungan PHC yang pernah menjadi Kepala UPTD dan Kepala Puskesmas setelah berhasil mengelabui banyak orang. Khusus soal kasus dokter gadungan jadi Kepala Puskesmas itu, Kemenkes menyentil sejumlah pihak.

Adalah Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kementerian Kesehatan RI dr Siti Nadia Tarmizi yang turut merespons kasus dokter gadungan di Surabaya bernama Susanto yang berhasil menipu banyak orang dan bekerja sebagai tenaga medis selama 2 tahun di PT Pelindo Husada Citra (PT PHC).

 

Pakai Ijazah Orang Lain

Belakangan terungkap bahwa Susanto telah mengelabui PT PCH, perusahaan yang juga membawahi Rumah Sakit PHC Surabaya, dengan melampirkan ijazah milik orang lain dan mengganti foto pemilik ijazah asli itu dengan foto dirinya.

Baca Juga: BCL tak Pusingkan Suaminya Dituding Gelapkan Rp 6,9 M

Sebelum menipu PT PHC, Susanto ternyata juga sempat mengelabui salah satu Puskesmas dengan menjadi Kepala UPTD dan Kepala Puskesmas. Praktiknya mirip, dia mencomot identitas dr Anggi Yurikno.

Dokter Nadia menyesalkan aksi Susanto yang menipu banyak pihak. Dia soroti pentingnya verifikasi sebelum keputusan kontrak tenaga kesehatan yang mana pada tahap itu tugas komite medik sangat penting untuk memastikan kompetensi nakes sesuai dengan surat maupun sertifikat yang dilampirkan.

"Seharusnya, pada kontrak pertama proses kredensial dari komite medik untuk menentukan tenaga medis tadi kompetensinya sesuai dengan yang dibutuhkan," kata dr Nadia

Pihak RS, menurut dr Nadia sebetulnya bisa melakukan proses cross-check data nakes dengan pemerintah daerah maupun sejumlah organisasi dan asosiasi RS. Hal ini demi menghindari kasus serupa seperti yang dilaporkan pada RS PHC Surabaya.

"Setiap RS punya hospital by law. Tentu harus ada pembinaan mengingatkan akan terus dilakukan bersama juga dengan Dinkes provinsi, kabupaten/kota, juga dengan Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI), Asosiasi Rumah Sakit Daerah Seluruh Indonesia (ARSADA), juga Asosiasi Rumah Sakit Swasta Indonesia (ARSSI)," pungkasnya.

 

HRD RS PHC Disanksi

Sementara itu, atas terbongkarnya kasus penipuan tersebut RS PHC memberikan sanksi terhadap 3 orang.

"Sanksi teguran tertulis. Ada 3 orang. Tim HRD sama satu dokter dari RS PHC," kata Manajer SDM PT PHC, Dadik Dwirianto.

Ketiganya dianggap lalai dalam hal seleksi pegawai hingga Susanto yang menyamar dengan nama Anggi Yurikno sebagai dokter umum bisa lolos menjadi dokter di di Klinik Occupational Health & Industrial Hygiene (OHIH), tepatnya di Klinik K3 PT Pertamina EP IV, Cepu. bd/ham/rmc

Editor : Moch Ilham

BERITA TERBARU