Alun-Alun Surabaya, Dipaksakan Buka

Alun-Alun Surabaya yang mulai dibuka lagi dan banyak warga yang menghabiskan waktu di sana.

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Pembukaan Alun-Alun Surabaya untuk masyarakat umum terkesan terburu-buru atau dipaksakan. Apalagi, Pemkot Surabaya belum siap terkait  penyediaan lahan parkir  untuk pengunjung.

Sehingga  tak hanya mengandalkan tempat parkir basemen Balai Pemuda yang kapasitasnya terbatas, namun diperlukan tambahan lahan parkir.

Untuk itu, Komisi C DPRD Kota Surabaya  membahas persoalan ini  dengan Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Surabaya, Dinas Koperasi,  UMKM dan Perdagangan, dan Dinas Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga,  Pariwisata.

Menurut Wakil Ketua Komisi C Aning Rahmawati,  pada Sabtu- Minggu (1-2/1),  lalu lintas di Jalan Yos Sudarso krodit, akibat banyaknya kendaraan yang parkir di tepi jalan. Ini karena parkir basemen Balai Pemuda tidak mampu menampung kendaraan pengunjung yang membludak.

" Ini kan kasihan masyarakat. Datang jauh-jauh tapi cari tempat parkir susah. Makanya, kita minta pemkot menyediakan lahan parkir tambahan, " ungkap dia.

Karena alun-alun  bawah tanah akan menjadi pusat pariwisata di Surabaya, mengingat posisinya yang cukup strategis, Aning pun meminta kepada Pemkot Surabaya  agar ada pendapatan yang masuk dari parkir tepi jalan umum (TJU). Sebelumnya, Dinas Perhubungan Kota Surabaya rencananya tidak masuk di parkir TJU, tapi ditempatkan di area terdekat.

" Ya kita sarankan dialihkan ke parkir TJU. Karena di TJU di Perda 8/2012 itu ada yang tanpa SK Wali Kota, yakni  pemasukan dari parkir TJU insidentil," jelas politisi perempuan PKS ini.

Parkir TJU insidentil ini, lanjut dia, akan ada di beberapa lokasi yang sudah ditentukan oleh dishub. Di antaranya, sekitar  Sentra Wisata Kuliner (SWK) Taman Prestasi, seberang Gedung Negara Grahadi (Taman Apsari), dan Jalan Sedap Malam. Jadi, lanjut dia, Komisi C akan memantau dan mengawal  karena ini ranahnya ada di Komisi C.

" Kami berharap pendapatan parkir insidentil dari TJU ini bisa menambah pendapatan asli daerah (PAD) Kota Surabaya. Karena antusias masyarakat sangat luar biasa," tandas dia.

Selain menyoroti soal parkir, tandas  Aning, ke depan Komisi C menekankan kepada ketiga dinas tersebut terintegrasinya  pariwisata dan transportasi  di sekitar alun-alun dan segitiga emas di Tunjungan dan lain lain. Kemudian Bandara Juanda  yang selama ini dalam Sparkling Surabaya sudah ditekankan bahwa bandara itu sebagai titik awal pariwisata di Surabaya, namun karena belum terintegrasi maka  sampai saat ini belum ada kabarnya.

Untuk itu, kata Aning, Komisi C menekankan dimulai dari Alun-Alun Surabaya ini integrasi itu tercapai. Integrasi seperti apa? "Ya, wisata Kalimas yang digagas 2021 tapi belum terlaksana, itu akan kita optimalkan, " imbuh Aning.

Di sisi lain, Aning juga berharap Alun-Alun Surabaya yang lagi viral itu jangan sampai mati seperti Kya-Kya Kembang Jepun dulu. Karena itu, pertunjukan-pertunjukan harus diperbanyak dan bervariasi. Komunitas- komunitas seni, teater dan komunitas-komunitas yang selama ini dibina dinas terkait harus dioptimalkan.

Terkait PKL dadakan, Aning mendorong  Pemkot Surabaya agar PKL ini diakomodir dan diberikan tempat di sekitar sungai, sebelah gedung DPRD Surabaya.

"Jangan  sampai mereka (PKL) ini mati, " tandas dia.

Sementara Kabid Lalu Lintas Dishub Surabaya, Susandi Ismawan mengaku,  Minggu (2/1) terjadi lonjakan luar biasa pengunjung Alun-Alun Surabaya. Bahkan, petugas dishub sampai kewalahan mengatur parkir. Apalagi kapasitas parkir basemen  cukup terbatas." Sekarang ini Alun-Alun Surabaya kan lagi viral.  Kita berusaha mengoptimalkan kantong-kantong parkir terdekat.Karena memang semua tak mungkin bisa tertampung di parkir basemen  Balai Pemuda, " jelas dia.

Untuk itu, lanjut dia, Dishub menawarkan opsi kantong  parkir di SWK Taman Prestasi,  Taman Apsari, dan Sedap Malam sebagai jantung parkir.

Ini nanti akan disosialisasikan lewat medsos dishub, sehingga masyarakat tahu lokasi-lokasi parkir.

Kepala Dinas Koperasi, UMKM, dan Perdagangan, Fauzie Mustaqiem Yos menuturkan, jika di alun-alun bawah tanah ada stan UMKM. Pihaknya masih menghitung berapa jumlah UMKM di sana, mengingat jumlah UMKM di Surabaya cukup banyak.

" Penjual makanan dan minuman tak boleh jualan di sana. Yang boleh berjualan  hasil kerajinan atau handicraft.  Nanti UMKM akan kita gilir bergantian, misalnya seminggu sekali atau sebulan sekali, " ungkap dia.

Yos menambahkan,  apakah tenan UMKM itu nanti digratiskan atau membayar. Kalau digratiskan kompensasinya  apa. Jangan sampai nanti jadi temuan BPK. "Ini kita siapkan dulu dan saat ini masih dalam proses, " kata dia.

Kepala Dinas Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga, Pariwisata, Wiwiek Widayati untuk Alun-Alun Surabaya konsepnya adalah untuk aktivitas seni dan budaya. " Pertunjukan juga ada di basemen. Ini sudah kita mulai dengan pameran seni. Kami juga akan mendisplay produk-prosuk UMKM, " ucap dia. Alq