Jokowi Bicara Kromo Inggil dengan Pengungsi Gunung Semeru

Jokowi saat menemui pengungsi di Lumajang, Selasa (7/12/2021).

SURABAYAPAGI.COM, Lumajang - Presiden RI Joko Widodo, memang humbel. Dengan para ahli waris korban meninggal dunia akibat awan panas guguran Gunung Semeru di Posko Pengungsian Desa Sumberwuluh, bicara bahasa jawa kromo inggil. Maklum warga Lumajang juga bisa bahasa jawa tengahan, selain madura.

Presiden RI Selasa kemarin (7/12) tiba di lapangan yang dijadikan posko pengungsian mengenakan kemeja putih yang ditutup jaket jenis bomber berwarna hijau.

Setelah turun dari mobil, Presiden langsung menuju tenda anak-anak yang sedang mengikuti pemulihan trauma oleh relawan.

Ia sempat membagi paket nasi siap saji kepada anak-anak, kemudian Jokowi beralih ke tenda berisi pengungsi dewasa serta membagikan paket sembako.

Dari sana, Jokowi menuju tenda lainnya yang berisi keluarga korban meninggal dunia akibat awan panas guguran Gunung Semeru, untuk menyerahkan santunan.

Jokowi lalu ke tenda keempat yang berisi relawan dan petugas gabungan sekaligus memberi semangat untuk menangani serta membantu korban terdampak.

Pada kesempatan tersebut, Jokowi juga sempat mendengarkan laporan dari Bupati Lumajang Thoriqul Haq yang didampingi Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa.

Selama sekitar satu jam berada di posko pengungsian, Jokowi kemudian melanjutkan perjalanan untuk meninjau lokasi terdampak awan panas guguran di Jembatan Besuk Koboan atau yang lebih dikenal Geladak Perak di Kecamatan Pronojiwo.

Sementara itu, di tengah perjalanan mobil Presiden berhenti tepat di depan Masjid Nurul Huda yang tidak jauh dari perbatasan antara Pronojiwo dan Sumberwuluh.

Di halaman masjid yang dijadikan posko pengungsian tersebut, Jokowi menyempatkan berbincang sejenak dengan warga sekaligus memberi bantuan paket sembako.

Kepada Presiden, para warga meminta agar infrastruktur yang hancur bisa segera diperbaiki. Presiden pun mengatakan akan segera membangun dan memperbaiki rumah-rumah warga terdampak berikut fasilitas publik lainnya seperti jembatan.

“Nggih (iya), rumahnya, jembatannya cepat kita mulai (diperbaiki). Ini Menteri PU sudah saya ajak. Ini baru mengecek semua, nanti segera dikerjakan,” ujar Presiden Jokowi. “Terima kasih, Pak,” seru para warga.

Presiden Joko Widodo juga meninjau langsung posko pengungsian yang terletak di Lapangan Desa Sumberwuluh, Candipuro, Lumajang.

Dalam kesempatan tersebut, warga terdampak erupsi Gunung Semeru pun bercerita pengalamannya pada saat kejadian itu berlangsung.

“Enggak sampai satu menit itu Pak, langsung gelap. Sebelumnya ada pemberitahuan memang, 25 getarannya katanya dari pusat pemantauan,” ujar seorang warga kepada Presiden, Selasa (7/12).

Lalu, seorang warga dari Dusun Kamar Kajang pun bercerita bahwa sebelum kejadian mereka telah mendapatkan peringatan dari pos pemantauan melalui telepon genggam mereka. Mereka tidak menyangka jika erupsi pada Sabtu (4/12) lalu ternyata lebih besar dari yang mereka perkirakan.

“Ada pemberitahuan, di HP sudah ada. Cuma dikira kecil Pak, dikira banjir kecil. 25 getarannya kecil biasanya. Nanti ada susulan yang lebih besar biasanya. Kalau pos pantau selalu siaga,” ungkapnya.

“Paniknya itu cuma panik abu, abunya itu loh Pak, kan gelap. Posisi jam 3 sore itu kejadian abu vulkanik. Hujan abu dulu, gelap, disusul lahar dingin,” timpal seorang warga lainnya.

Usai kejadian, para warga terdampak tersebut juga sempat mengecek rumah mereka masing-masing melalui jalur yang bisa dilewati. Seorang warga bercerita bagaimana erupsi Gunung Semeru telah menewaskan banyak ternak peliharaannya. Sementara warga lainnya bercerita bagaimana ia masih mencari beberapa keluarganya yang masih hilang. n sem, lm, er