Partisipasi Pemilih Surabaya antara 55 -77 Persen

Infografis

Demikian Prediksi Pengamat Politik dan KPU Kota Surabaya, Saat Pilkada Kota Surabaya pada 9 Desember 2020 Mendatang 

 

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya –  Pemilihan Kepala Daerah atau Pilkada di Surabaya yang akan berjalan pada 9 Desember mendatang nampaknya akan menjadi Pilkada yang berbeda seperti tahun-tahun sebelumnya. Berjalan ditengah pandemi Covid-19, beberapa pengamat politik memprediksi partisipasi pemilih bisa mencapai angka 55%. Bahkan KPU Surabaya sendiri memprediksi bisa mencapai 77 persen. Prediksi optimisme ini lebih tinggi ketimbang Pilkada Surabaya 2015 lalu, yang hanya diikuti 51 persen partisipasi warga Surabaya.

Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Surabaya optimistis bisa memenuhi target partisipasi pemilih sebesar 77,5 persen pada Pilkada Surabaya 2020. Anggota KPU Surabaya Subairi menuturkan, untuk memenuhi target tersebut, pihaknya saat ini giat sosialisasi kepada warga di sejumlah lokasi. "Sosialisasi dilakukan secara tatap muka dengan menggandeng media massa dan menggelar seni budaya, serta mengajak melalui media sosial untuk partisipasi aktif dengan datang ke TPS," ujar dia.

Subairi mengatakan, jika KPU Surabaya menggelar sosialisasi tatap muka sebanyak 110 kali sesuai dengan kekuatan anggaran yang ada. "Itu menyisir 11 segmen di antaranya pemilih pemula, netizen, perempuan, komunitas, dan kawasan padat penduduk," tutur dia.

 

Sosialisasi Kawasan Elit

Dia menuturkan, kegiatan ini penting dilakukan karena bagian dari bentuk upaya menyapa masyarakat secara langsung agar mau menggunakan hak pilihnya pada Pilkada Surabaya yang digelar pada Desember mendatang. "Ini penting juga sebagai pendidikan politik," ujar dia.

Sasaran sosialisasi yang sudah dilakukan KPU Surabaya diantaranya ke beberapa sekolah, kemudian kepada kelompok-kelompok agama hingga tempat umum dengan sasaran pemilih pemula. Selain itu, KPU juga menyasar ke kawasan perumahan elit di Surabaya, yang selama ini dianggap masih terlalu apatis ketimbang kawasan pelosok atau pedesaan.

Lantas, yang menjadi sorotan dalam Pilkada Surabaya nantinya, yakni pemilih , bagi tim paslon nomor urut 1 Eri Cahyadi-Armuji dan tim paslon nomor urut 2 Machfud Arifin-Mujiaman, masih merasa optimisi, partisipasi para pemilih pemula alias pemilih milenial, untuk hadir dalam kontestasi Pilkada Surabaya 2020 mendatang.

Politisi muda Partai Amanat Nasional (PAN) yang juga anggota DPRD kota Surabaya, Juliana Evawati, melihat, animo pemilih muda dalam Pilkada Surabaya meski ditengah pandemi, masih tetap akan tinggi. “Sekalipun di masa pandemi, saya yakin animo pemilih muda akan tetap tinggi,” kata Jeje, sapaan akrab dari Juliana Evawati.

 

Daya Tarik Pilkada

Menurut perempuan kelahiran 1993 ini, pemilih milenial seringkali mengikuti tren kekinian untuk diunggah dalam akun Media sosial. Situasi pilkada pun dinilai memiliki daya tarik dalam konteks fenomena era kekinian.

"Misalnya, pada saat pilkada serentak 2018 dan Pemilu 2019 lalu. Ternyata banyak yang mengunggah foto jari bertinta ungu dan itu menjadi tren di hari (pemungutan suara) itu," katanya.

Selain untuk aktualisasi diri, kehadiran pemilih milenial juga seakan menunjukkan bahwa mereka tetap peduli kepada negara. "Mereka sadar bahwa peran mereka untuk negara dibutuhkan," kata politisi PAN ini.

"Apa yang terjadi di daerah mereka untuk lima tahun ke depan ada di tangan mereka. Suara mereka menentukan masa depan pembangunan daerah," kata legislator termuda di DPRD Surabaya ini.

Penyelenggaraan pilkada di tengah pandemi juga harus ditopang dengan pemahaman pelaksanaan protokol kesehatan. "Kami rasa KPU sudah mengantisipasi hal tersebut," katanya.

 

Motif Lain Pemilih Muda

Sedangkan, anak muda yang juga juru bicara tim Eri Cahyadi-Armuji, Seno Bagaskoro, menyebut tantangan besar untuk meningkatkan partisipasi anak muda dalam kontestasi pilkada 9 Desember mendatang.

Seringkali, keikutsertaan anak muda dalam memilih calon bukan pada substansi politik, namun karena motif lain. "Misalnya, dengan menunjukkan jari bertinta ungu, mereka banyak mendapatkan diskon saat belanja dan berbagai kemudahan lain. Sebab, masih banyak anak muda yang memang apolitis," kata Seno.

Menurutnya, meningkatkan partisipasi pemilih muda bukan hanya menjadi tanggungjawab penyelenggara, namun juga partai politik dan para pasangan calon. Para pasangan calon harus bisa menyiapkan program yang jelas berpihak kepada anak muda.

"Para kontestan harus bisa menyampaikan apa yang sedang disiapkan untuk anak muda dan apa yang sudah dilakukan untuk anak muda selama ini. Kalau bisa dilakukan, akan semakin tinggi partisipasi anak muda datang ke TPS," katanya.

"Sebab, dalam konteks politik, seringkali hasrat anak muda bertepuk sebelah tangan. Namun, kalau ada semangat bersama, bukan tak mungkin akan menimbulkan CLBK (Cinta Lama Bersemi Kembali)," terangnya.

 

Faktor Covid-19

Sedangkan, dua pengamat senior dari Surabaya Survey Center (SSC), yakni Surokim Abdussalam dan Mochtar W Oetomo, memprediksi kisaran partisipasi di tengah pandemi berkisar 50 – 55 persen.

"Berat sepertinya tingkat partisipasi bisa 55% penyelenggara butuh ekstra usaha. Banyak hal yg perlu disiapkan tidak hanya teknis tetapi juga nonteknis dan KPU tidak bisa sendirian akan tergantung pihak lain itu hanya membuat semua menjadi berat," ungkap peneliti senior SCC Surabaya yang juga Dekan Fisib Universitas Trunojoyo Madura, Surokim Abdussalam, kepada Surabaya Pagi, Senin (12/10/2020).

Menurutnya, pada Pemilu kondisi normal, tingkat partisipasi hanya mencapai 60% dan jarang bisa di mendapat angka tersebut. "Apalagi dalam suasana pandemi seperti sekarang dimana ada faktor fundamental fear juga menjadi variabel menentukan. Saya pikir situasi benar-benar sulit dan tidak ada jalan lain penyelenggara butuh kerja keras kerja ekstra kreatif dan solutif seiring dengan mepetnya waktu penyelenggaraan," terang Surokim.

 

Golput di Pandemi

Lanjutnya, angka golput yang menjadi salah satu faktor pada masa pandemi menjadi pertimbangan safety and security. "Fear tadi iya pasti ada peningkatan bagaimanapun orang pasti tetap akan mendahulukan kepentingan kesehatan ketimbang politik. Selama ini angkat golput berkisar antara 10%-15% saja dan menurut saya akan ada peningkatan golput karena faktor pandemi tadi," ucapnya.

"Tidak semata-mata karena paslon, malah biasanya kalau head to head malah bisa meningkatkan partisipasi tetapi kalau sekarang ini kan faktor pandemi itu yang dominan. Ini pemilu yang tidak mudah, ini pemilu yang rumit, penyelenggara bisa mencapai 50% saja sudah bagus. Kecuali ada terobosan untuk menjemput pemilih dengan TPS berjalan seperti di RS begitu," imbuhnya.

 

Keamanan Pemilih

Senada dengan hal tersebut, Mochtar W Utomo selaku peneliti senior Surabaya Survey Center atau SCC mengungkapkan bila hasil dari berbagai lembaga survei pilkada bahwa angka partisipan memasuki kisaran angka 50%. "Dari berbagai hasil riset berbagai lembaga survei rata-rata tingkat partisipasi pilkada pada masa pandemi dikisaran 50%. Berdasar pengalaalam tingkat partisipasi publik di hari - H selalu sedikit di bawah hasil survei. Jadi kalo 09 Desember nanti suasana masih pandemi kemungkinan besar tingkat partisipasi di bawah 40%," ungkap Mochtar, Senin (12/19/2020).

Disinggung mengenai peningkatan angka golput hingga para paslon mampu menggaet partisipan pemilih maka harus dimulai dari efektifitas strategi sosialisasi pada masa kampanye.

"Kalo pastisipasi menurun otomatis golput naik. Mestinya pertanyaannya apakan paslon bisa meningkatkan partisipasi pemilih? Ya tentu saja bisa melalui berbagai efektifitas strategi sosialisasi dan kampanyenya tetapi dengan kondiai objektif pandemi, hal itu tentu tidak mudah," terangnya

Mochtar juga menegaskan bila para pihak penyelenggara beserta Pemkot Surabaya wajib memastikan keamanan dan kesehatan dengan protokol kesehatan yang sangat ketat. "Itu pasti, harus lebih dari itu dan memperkuat intensitas sosialisasi tentanf hari- H pilkada," pungkasnya. byt/alq/cr2/rmc