Produksi Garam Nasional Masih Rendah, Pengusaha Industri Pilih Impor

author surabayapagi.com

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news
Para petani garam sedang panen. SP/ JKT
Para petani garam sedang panen. SP/ JKT

i

SURABAYAPAGI.com, Jakarta - Pengusaha industri akhirnya memilih garam impor dibanding lokal demi melanjutkan produktivitasnya. Hal tersebut lantaran para petambak garam lokal masih kesulitan untuk memproduksi garam sesuai standar kebutuhan industri pengolahan. 

"Sampai hari ini kan belum bisa untuk memenuhi industri karena standarnya masih di bawah," jelas Ketua Umum Asosiasi Industri Pengguna Garam Indonesia (AIPGI) Cucu Sutara, Selasa (05/12/2023).

Padahal, kebutuhan garam nasional yang mencapai 4,7 juta ton pertahun baru bisa terpenuhi sekitar 41 persennya atau sekitar 1,9 juta ton. Dari produksi 1,9 juta ton hanya dapat memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat, belum bisa memasak untuk industri. Akhirnya, 2,8 juta ton kebutuhan industri masih diimpor.

Sementara itu, dalam hal ini, industri chlor alkali plant (CAP), aneka pangan, dan farmasi menjadi tiga sektor yang banyak menyerap garam industri. 

Adapun, ketiga sektor tersebut membutuhkan 3,3 juta ton garam untuk pengolahan Ketua Umum Asosiasi Industri Pengguna Garam Indonesia (AIPGI) Cucu Sutara mengatakan, produksi garam nasional saat ini sebanyak 1,9 juta ton yang seluruhnya merupakan garam konsumsi.  

Sementara itu, untuk menjalin kemitraan dengan petambak garam nasional, industri pengguna garam menyerap produksi para petambak melalui Unit Pengolahan Garam (UPG) sebanyak 736.911 ton garam dengan kualitas bervariasi.  

Hal ini pun ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman Penyerapan Garam antara Industri Pengguna Garam dengan Koperasi Petambak Garam Nasional (KPGN) serta Produsen Garam Farmasi. 

"Tiap-tiap perusahaan UPG tersebut punya petambak masing-masing sebagai tanggung jawab moral, tetapi kebanyakan hampir dipastikan bahwa mereka itu untuk konsumsi barangnya," tuturnya.  

Keluhan mengenai para petani garam nasional diungkap oleh Ahmad Sanusi, Petani Garam Asal Madura yang menerangkan pabrikan yang menyerap garam menyebut untuk konsumsi sudah memenuhi persyaratan, tapi industri belum.

Ia mengaku kesulitan membangun pelanggan dari kalangan pabrikan, sebab saat sudah terjalin, standar kualitas menjadi kendala.

"Setelah terjalin hubungan baik dengan pelanggan pabrikan, tapi barangnya tidak ada. Ini menjadi PR kita ke depan, karena kebutuhan sangat besar. Kami mohon dievaluasi apa yang menjadi keinginan nasional, termasuk kebutuhan industri," jelasnya.

Kapasitas produksi garam milik Sanusi mencapai 30.000 ton per-tahun dan biasanya diserap oleh Unit Pengolah Garam (UPG).

Sementara itu, dalam hal ini, penggunaan garam konsumsi yang diserap oleh industri melalui UPG digunakan untuk pengalengan ikan, pengasinan, dan industri lain untuk konsumsi.  

Lebih lanjut, Cucu menerangkan, kebutuhan garam nasional sebesar 4,7 juta ton yang mencakup garam konsumsi dan industri. Adapun, produksi garam lokal sebesar 1,9 juta yang diserap untuk konsumsi.  

"Yang paling besar itu kebutuhan untuk CAP 2,7 juta ton, kalau aneka pangan 600.000 ton, untk farmasi 6.000 ton. Seluruhnya masih impor karena mereka butuh spesifikasi khusus untuk menjaga daya saing karena mereka ekspor," tuturnya. jk-05/dsy

Berita Terbaru

AICECS UNAIR: Menjelajahi Keberagaman Budaya Indonesia dari Surabaya

AICECS UNAIR: Menjelajahi Keberagaman Budaya Indonesia dari Surabaya

Jumat, 30 Okt 2026 13:20 WIB

Jumat, 30 Okt 2026 13:20 WIB

SURABAYAPAG.com, Surabaya - Universitas Airlangga sedang menggelar event AICECS, Airlangga International Cultural Environmental Community Service sebagai wadah…

45 Lapak PKL di Telaga Ngebel Ponorogo Terancam Dibongkar, Pedagang Keluhkan Minim Sosialisasi

45 Lapak PKL di Telaga Ngebel Ponorogo Terancam Dibongkar, Pedagang Keluhkan Minim Sosialisasi

Jumat, 30 Okt 2026 13:17 WIB

Jumat, 30 Okt 2026 13:17 WIB

SURABAYAPAGI.com, Ponorogo – Sebanyak 45 tempat usaha milik pedagang kaki lima (PKL) di kawasan Telaga Ngebel, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, terancam d…

Pegiat Lingkungan Desak Eksplorasi Geotermal Ngebel Dihentikan, Khawatir Picu Krisis Air

Pegiat Lingkungan Desak Eksplorasi Geotermal Ngebel Dihentikan, Khawatir Picu Krisis Air

Jumat, 30 Okt 2026 13:15 WIB

Jumat, 30 Okt 2026 13:15 WIB

SURABAYAPAGI.com, Ponorogo – Rencana eksplorasi panas bumi atau geotermal di Dukuh Brambang Rt 01 Rw 01 Desa Gondowido Kecamatan Ngebel, Kabupaten Ponorogo, J…

2 Korporasi Malaysia dan Singapura Tersangka Karhutla

2 Korporasi Malaysia dan Singapura Tersangka Karhutla

Jumat, 30 Okt 2026 03:20 WIB

Jumat, 30 Okt 2026 03:20 WIB

SURABAYAPAGI.com, Jakarta - 20 korporasi sebagai tersangka dalam kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Dari daftar tersebut, empat di antaranya merupakan…

Sepuluh Staf Terima Uang di Luar Gaji

Sepuluh Staf Terima Uang di Luar Gaji

Jumat, 30 Okt 2026 03:18 WIB

Jumat, 30 Okt 2026 03:18 WIB

SURABAYAPAGI.com, Surabaya — Pengakuan sepuluh staf bidang pertambangan Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jawa Timur yang menerima uang di luar gaji d…

ESDM JATIM DIDUGA TERIMA PUNGLI RP 687,5 JUTA

ESDM JATIM DIDUGA TERIMA PUNGLI RP 687,5 JUTA

Jumat, 30 Okt 2026 03:15 WIB

Jumat, 30 Okt 2026 03:15 WIB

SURABAYAPAGI.com, Surabaya - Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jawa Timur mendalami dugaan aliran dana pungutan liar (pungli) sebesar Rp 687,5 juta kepada mantan…