Beras Langka, Saat Pemilu

author surabayapagi.com

- Pewarta

Senin, 12 Feb 2024 21:17 WIB

Beras Langka, Saat Pemilu

Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Pedagang Pasar Indonesia Tuding Pemerintah tak Serius Kelola Beras 

 

Baca Juga: Antisipasi Beras Mahal, Pedagang Warteg Kurangi Porsi Nasi ke Pelanggan

SURABAYAPAGI.COM, Jakarta - Beras di pasaran sejak kampanye makin langka. Juga harganya kian tak terbendung. Laporan harga beras medium kini telah mencapai Rp 13.500/kg dan beras premium Rp 18.500/kg.

Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (DPP IKAPPI) Reynaldi Sarijowan menyebutkan sejumlah penyebabnya.

Reynaldi mengatakan pihaknya menilai persoalan harga beras yang kian melonjak  disebabkan karena pemerintah tidak serius dalam mengelola beras sejak musim tanam tahun 2022. Alhasil, data produktivitas beras dalam negeri masih simpang siur hingga sekarang.

"Yang pertama ialah pemerintah tidak serius dalam pengelolaan perberasan sejak musim tanam tahun 2022 hingga kini sehingga produktivitas beras kita datanya simpang siur," kata Reynaldi dalam keterangan tertulis, Senin (12/2/2024).

 

Sinkronkan Beras Bansos-Pedagang

Untuk itu, dia mendorong pemerintah untuk menyinkronkan data antara beras yang disebarkan untuk bantuan sosial (bansos) dan beras yang disebarkan ke pedagang pasar. Dia menilai hal ini penting untuk keberlangsungan pasar sehingga bisa menekan harga beras di pasar.

Apalagi kelangkaan dan harga beras yang kian tinggi ini bertepatan dengan pemilihan umum (pemilu). Menurutnya, banyak beras yang diambil di luar pasar atau produsen besar saat momentum ini.

"IKAPPI mendorong agar pemerintah berhati-hati dengan lonjakan beras dan sulitnya beras didapati di pasar tradisional. Ini penting karena ini momen politik, musim pemilu sehingga banyak beras yang diambil di luar pasar tradisional atau produsen besar. Ini yang harus dijaga oleh pemerintah untuk ke depan," jelasnya.

Ketua Umum Aprindo Roy N Mandey mengatakan keterbatasan dan kekosongan beras di ritel disebabkan karena pengusaha saat ini menahan pembelian pasokan baru dari produsen atau distributor.

 

Naiknya Gak Tanggung-tanggung

Sampai Senin (12/2/2024) pengusaha ritel belum membeli stok baru dari produsen karena harga jual yang ditawarkan melonjak sangat tinggi 2%-30% dari sebelumnya.

Roy N Mandey,  mengatakan hal tersebut berdasarkan surat pengumuman dari produsen dan distributor kepada ritel. "Kami disurati oleh produsen kalau mau dapat pengiriman beras bulan ini, Februari, maka harganya naiknya sekian. Nggak tanggung-tanggung, naiknya sekitar 20%-30%, bahkan ada yang lebih dari itu. Kita mau beli, tapi harga mahal, misal harga beras Rp 18.000 pe kg, masa kita jualnya Rp 13.000 atau Rp 15.000, masa beli mahal, jual rugi, nggak ada hitungannya di ritel" kata Roy, Senin (12/2/2024).

 

Ada Kekosongan Beras di Ritel

Roy juga mengatakan, saat ini ritel hanya menjual stok beras dari cadangan yang ada di gudang. Di mana beras tersebut masih dengan harga sebelumnya. Menurutnya, jika sudah terjadi kekosongan, artinya cadangan di gudang juga sudah habis.

"Beberapa ritel terutama di Jabodetabek ini masih menjual stok sisa yang ada di cadangan gudang mereka, (kalau stok habis) ya artinya sudah habis karena sudah dijual stok cadangan gudang mereka," jelas Roy.

Namun, Roy mengatakan ritel tidak bisa terus mengandalkan sisa stok di gudang mereka. Karena jika sudah habis, akan terjadi kekosongan beras di ritel.

"Oke kita jualin ada di gudang-gudang kita, kita nggak beli dulu, kita jualin cadangan kita. Tetapi ini mau sampai berapa lama? Kalau nggak beli, di gudang-gudang kita pada saatnya pasti habis, terjadi kelangkaan," jelasnya.

Roy menjelaskan, berdasarkan informasi yang diterima, tingginya harga yang ditawarkan oleh produsen disebabkan karena harga dari penggilingan padi sudah tinggi. Selain itu, saat ini pasokan beras juga terbatas karena belum adanya panen.

Baca Juga: Dinas Pertanian Terang-Terangan Ungkap Faktor Penyebab Tingginya Harga Beras di Jatim

"Dalam negeri belum panen karena masa tanam, impor belum masuk, itulah yang terjadi hukum supply dan demand. Kalau demand cenderung mengalami peningkatan, tetapi suplainya terbatas, harga pasti naik," jelas Roy.

 

Penjelasan Mantan Menteri Perdagangan

Mantan Menteri Perdagangan, Tom Lembong  mengungkap soal terbuangnya secara sia-sia hasil panen sekitar 10-30 persen. Diketahui, harga sejumlah komoditas pangan mengalami lonjakan menjelang hari H pemilihan umum. Masyarakat hingga pedagang pun mengeluh soal lonjakan harga ini.

Tom Lembong mengungkap hampir setengah dari pangan yang diproduksi di Indonesia terbuang sia-sia. Kondisi itu disebabkan dua fenomena utama yakni, food loss dan food waste.

Food loss adalah hilangnya komoditas pangan saat masih di tingkat petani, sedangkan food waste adalah hilangnya atau terbuangnya pangan secara sia-sia di tangan konsumen.

 

Petani Mengakses Teknologi Pengeringan

Tom Lembong mengungkap strategi untuk mengurangi bahkan menghilangkan food loss di tingkat petani. Namun, membutuhkan political will dari pemerintah.

Kehilangan hasil panen dapat diminimalisasi dengan teknologi pengeringan yang menggunakan energi surya. Petani harus dapat mengakses teknologi pengeringan sederhana sekalipun, seperti yang telah diterapkan di Jepang, Jerman, dan beberapa negara lainnya.

Solusi lain untuk mengurangi food loss adalah gudang penyimpangan hasil panen petani. Kehilangan hasil panen selama ini terjadi karena tidak memadainya gudang penyimpanan.

Jika food loss ini dapat ditekan, petani bisa mendapatkan peningkatan pendapatan dari hasil panen, stok beras tersedia naik 10-30 persen, dan harga beras di konsumen bisa turun 10-30 persen.

Baca Juga: Harga Beras Tidak Ada Lonjakan, Stok di Retail Modern Masih Terbatas

 

Penjelasan Pemerintah

Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Arief Prasetyo Adi menuturkan untuk mengatasi kelangkaan stok beras premium di ritel-ritel modern, pemerintah telah menugaskan Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik atau Perum Bulog untuk menggulirkan beras ke ritel dan pasar tradisional di sejumlah daerah. Seperti di Kabupaten Pati dan Pekalongan Timur, Jawa Tengah.

Arief mencatat beras komersial Bulog sebanyak 200 ribu ton akan disalurkan ke pasar tradisional dan ritel hingga Maret 2024. Dari jumlah tersebut, 50 ribu ton di antaranya digelontorkan untuk Food Station Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC) untuk memenuhi permintaan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta.

 

1,2 juta Ton Beras SPHP

"Suplai beras ke peritel dari Bulog sudah berjalan. Penyaluran ini adu cepat dengan pembelian masyarakat," ungkap Arief saat dihubungi Media Indonesia, Minggu (11/2).

Kepala Bapanas juga menuturkan beras SPHP dari Bulog juga digelontorkan ke pasar-pasar tradisional dan ritel modern. Rencananya, penyaluran beras SPHP mencapai 1,2 juta ton tahun ini. Masyarakat bisa mendapatkan beras tersebut di outlet-outlet distributor mitra Bulog.

Arief mengatakan harga beras premium bukan dari Bulog yang dijual saat ini masih di atas harga eceran tertinggi (HET). Pemerintah telah menetapkan HET beras premium sebesar Rp 13.900-Rp 14.800 per kilogram (kg)

"Harga jualnya masih di atas HET, karena harga gabah masih di atas Rp7.000 per kg," ujarnya.

Kepala Bapanas menyampaikan usulan untuk revisi HET bukan jalan keluar utama untuk mengatasi kelangkaan stok beras premium. Pemerintah, katanya, fokus untuk menyediakan suplai beras. Termasuk mendatangkan impor beras. Pemerintah telah mengumumkan akan impor beras sebanyak 3 juta ton sepanjang tahun ini. n erc/jk/cr4/rmc

Editor : Moch Ilham

BERITA TERBARU