Jokowi, Menjembatani antara Siapa dan Siapa ?

author surabayapagi.com

- Pewarta

Selasa, 20 Feb 2024 20:55 WIB

Jokowi, Menjembatani antara Siapa dan Siapa ?

i

Raditya M Khadaffi

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Peristiwa politik terbaru, ada pertemuan antara Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Istana Merdeka Minggu (18/2/2024) malam.

Koordinator Staf Presiden Ari Dwipayana dan Sekjen Partai NasDem Hermawi Taslim, memberi keterangan secara berbeda.

Baca Juga: Amicus Curiae, Terobosan Hukum

Senin pagi (19/2), Presiden Joko Widodo ikut merespon. Ia mengatakan dirinya ingin menjadi jembatan bagi semua pihak.

Jokowi mengklaim pertemuannya dengan Surya Paloh sebagai penghubung atau jembatan untuk semua hal. Ia hanya ingin menjadi penghubung komunikasi terhadap semua hal, perihal urusan-urusan politik seluruhnya diserahkan kepada partai-partai politik di tanah air.

Menurut Jokowi pertemuan tersebut hanya sekedar pertemuan biasa dan wajar saja pihaknya juga membahas politik.

Pertanyaanya, Jembatan antar parpol siapa dengan siapa? Apa ada parpol non Koalisi Indonesia Maju yang minta dijembatani bergabung dengan Prabowo-Gibran?

Pertanyaan ini muncul, karena adanya perbedaan suara terkait siapa yang menginginkan pertemuan tersebut.

Apalagi, Surya Paloh, pengusung pasangan nomor 01 Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar, yang berbeda dengan koalisi capres 02 yang didukung Jokowi.

 

***

 

Dalam catatan jurnalistik saya, selama masa kampanye pilpres 2024, Jokowi, jadi sosok yang disorot publik. Ini terkait kerancuannya, Jokowi sebagai kepala negara, kepala pemerintahan dan kepala keluarga.

Akal sehat saya juga binggung membaca pernyataan pernyataan Jokowi saat masa kampanye. Mana yang domain kepala keluarga (ayah Gibran) dan penyelenggara negara.

Riil, Jokowi kini masih menjadi pemimpin kabinet sampai Oktober 2024.

Saya sebagai jurnalis juga mencoba membaca aspirasi Jokowi.

Akal sehat saya mengakui Jokowi adalah tokoh kunci penentu pada pemilihan presiden 2024.

Saya tak tahu penilaian sebagian ketua umum partai non koalisi Indonesia Maju.

Baca Juga: Apple akan Bangun Akademi Developer di Surabaya

Catatan saya, sorotan pro kontra terhadap, katakan cawe cawenya Jokowi, tak jauh dari konteks keberlanjutan program kerja dan pembangunan yang dirintisnya.

Kelompok yang pro dan kontra, pasti mengakui eksistensinya sebagai presiden petahana dua kali.

Wajar Jokowi memiliki basis pemilih yang kuat dan tersebar di seluruh Indonesia, terutama di daerah kantong-kantong mayoritas pemilih seperti Jawa Tengah, Jawa Timur dan kawasan Indonesia Timur.

Riil, sebagai tokoh politik, Presiden Jokowi, meski bukan Ketum parpol, ia juga memiliki jaringan relawan yang luas. Sampai pilpres 2024 ini relawan itu tetap aktif sejak Jokowi menjadi calon presiden sejak 2014.

Bantuan sosial (bansos) menjadi pembahasan hangat, karena Presiden Joko Widodk terus gencar membagikannya jelang Pemilu 2024. Hal ini pun menjadi sorotan publik.

Kendati demikian, Presiden Jokowi masih menegaskan bahwa penyaluran berbagai bantuan sosial kepada masyarakat penerima manfaat merupakan salah satu langkah pemerintah dalam memitigasi kenaikan harga pangan yang terjadi di hampir semua negara.

Sementara mereka yang kontra, menyorot kegiatan bagi-bagi bantuan sosial presiden Jokowi disorot, karena terlalu rutin dan memberi kesan Jokowi tak punya pekerjaan lain. Padahal, banyak tugas yang lebih urgen bagi Kepala Negara.

Maklum, saya catat urusan bantuan sosial di saat-saat pemilu sensitif. Capres yang diusung PDIP dan koalisinya, Ganjar Pranowo, berharap Jokowi tulus memberikan bansos. Sebab, bansos, katanya dibutuhkan rakyat.

Baca Juga: Mengapa Gibran dan Bapaknya Diusik Terus

Ini karena bansos diberikan di saat ini untuk memperkuat daya beli masyarakat kelas bawah. Sebab, harga pangan sedang naik.

 

***

 

Selama jadi presiden dua periode, Jokowi identik dengan blusukan. Presiden presiden sebelumnya tak merambah kesana. Istilah ini dalam bahasa Jawa berarti turun langsung ke lapangan untuk mendengar persoalan yang dihadapi masyarakat.

Gaya blusukannya ini pula yang membuatnya dikenal dan menjadi populer. Dia dianggap sebagai pemimpin “yang merakyat” dan mau mendengar masyarakat.

Masuk akal juga hasil Survei Indikator Publik Nasional. Lembaga ini, akhir tahun 2023 lalu merilis survei tingkat kepuasan kinerja pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Ma'ruf Amin. Hasilnya, 76,1% responden mengaku puas.

Saya adalah salah satu rakyat yang mengakui keberhasilan Jokowi, sebagai presiden ke 7. Bagi akal sehat saya, presiden Jokowi, memang Luar biasa! ([email protected])

Editor : Moch Ilham

BERITA TERBARU