Megawati, Politisi Tua, Bisa Diprovokasi Wartawan Muda

author surabayapagi.com

share news
share news

URL berhasil dicopy

share news
Raditya M. Khadaffi
Raditya M. Khadaffi

i

SURABAYAPAGI.COM, Surabaya - Minggu ini, ada dua peristiwa yang mengusik saya sebagai jurnalis muda. Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri yang sudah berusia 76 tahun nggondok (Kesal hati, jengkel) atas pemberitaan sebuah surat kabar. Koran ini menyebut partainya saat ini dalam keadaan panik.

Megawati heran dengan pemberitaan berjudul seperti itu. Sayang, ibu Puan Maharani,  tidak jelaskan isi beritanya.

Mega langsung menilai ada pihak yang sentimen dengan partainya. "Bayangkan, tadi pagi saya sebelum berangkat, baca koran. Wah, ada satu koran yang kayaknya, saya sendiri mikir, lah ngopo yo, kok sentimen sama PDI Perjuangan? Saya nggak pernah ganggu dia, itu bilang. Wah, sekarang PDI itu panik, begitu," tutur Megawati dalam sambutannya di acara temu kader DPD PDIP Yogyakarta, Selasa (22/8/2023).

Megawati, malah mengatakan sempat berdiskusi dengan Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto, terkait hal itu. Ia menyebut partainya ingin kembali mengadakan acara besar dan mengundang semua Ketum parpol.

"Lho panik opone lho? Kadang-kadang saya tuh suka mikir gini, saya udah ngomong sama Pak Hasto, kapan-kapan yuk kita bikin ya rapat, yang gede lagi, kita undang semua Ketua Umum-Ketua Umum, biarin liat, PDI Perjuangan siap atau tidak. Panik apa tidak, gitu," ucap Megawati yang disambut riuh oleh para kader. Riuhnya sambutan ini bisa bermakna dua. Sambutan Mega akan undang semua ketua Umum Parpol dalam rapat akbar. Atau riuh, baru baca judul beritanya koran sudah nggondok.

Megawati, menurut saya, ungkap uneg-uneg tentang judul sebuah berita tanpa mengurai isi berita, seperti anak kecil yang tak suka baca isi berita secara utuh.

Mega tidak bertanya humas PDI-P (yang ngerti ilmu jurnalistik) tentang struktur sebuah berita.

Sebuah berita di koran ada urutannya yaitu judul (headline), kepala berita (lead), tubuh berita (body), dan ekor berita.

Bagi seorang jurnalis, Judul sangat penting dalam suatu berita. Judul untuk memikat pembaca agar mau membaca isi dari teks berita. Untuk itu, judul harus dibuat semenarik mungkin agar dapat memancing rasa penasaran pembaca. Nah, Mega kepancing dengan kemasan berita.

Sebagai jurnalis muda, saya hormati "mencak-mencaknya" politisi tua. Mega, yang tidak membaca isi berita secara lengkap dan langsung memberi reaksi, tak ubahnya politisi grusa-grusu.

 

***

 

Peristiwa kedua, dalam kapasitas Ketua Dewan Pengarah BPIP sekaligus Ketum PDIP, Megawati Soekarnoputri, ingin KPK dibubarkan. Megawati, mengaku sempat mengatakan ke Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk membubarkan KPK karena dinilai sudah tak efektif.

Saat menjadi pembicara di acara Sosialisasi Buku "Teks Utama Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah pada Satuan Pendidikan Pelaksana Implementasi Kurikulum Merdeka" di The Tribrata Darmawangsa, Jaksel, Senin (21/8), Megawati berbicara tentang rakyat yang masih miskin dan korupsi masih saja terjadi.

"Saya sampai kadang-kadang bilang sama Pak Jokowi 'Udah deh bubarin aja KPK itu, Pak, menurut saya nggak efektif'. 'Ibu nek ngomong ces pleng'," kata Megawati menirukan percakapan dengan Jokowi.

Apa mudah membubarkan KPK? Megawati, mesti ingat, isi Undang-undang Nomor 30 tahun 2002 tentang KPK, yang dilahirkan saat Mega menjadi Presiden ke-5.

UU ini mengamanatkan pembubaran KPK harus mendasarkan aspirasi masyarakat. Meski anggota DPR representasi dari rakyat, dan jumlah wakil rakyat dari PDIP mayoritas, tidak serta merta bisa melakukan usulan pembubaran KPK, semaunya.

Saya juga heran dengan brandnya Mega sebagai sosok antikorupsi, kok kini malah minta pembubaran KPK.

Akal sehat saya bilang jika Megawati ingin membubarkan KPK, ia tidak bisa serampangan.

Mencerna omongan Mega di acara itu, sepertinya usulan Mega ini hanya sekedar emosi sesaat karena kekesalannya. Semoga!

Menurut akal sehat saya, secara konstitusional, gagasan pembubaran Komisi Pemberantasan Korupsi oleh Megawati, tidak akan didukung mayoritas rakyat Indonesia.

Hal yang mesti dipikirkan Mega, jika KPK dibubarkan, lembaga antikorupsi apa lagi untuk memberantas korupsi. Mengingat Polisi dan Kejaksaan, sampai kini belum kelihatan  gregetnya. Kejaksaan Agung yang sudah lari kencang, sampai berani menahan seorang menteri yang pengurus parpol.

 

***

 

Dalam bahasa sehari- hari, ada dua istilah nggondok. Pertama gondok sebagai satu jenis kelenjar yang terletak pada leher bagian depan dibawah jakun. Penyakit ini juga disebut kelenjar tiroid. Beda makna gondok-gondokan.

Arti gondok-gondokan adalah kesal, jengkel, mendongkol; dan marah yang tertahan, karena diperlakukan tidak sewajarnya; ia akhirnya mendongkol.

Biasanya orang yang suka mendongkol dialami orang yang memasuki usia lanjut. Menurut teman saya yang psikiatri, akan banyak perubahan bagi orang yang beusia lanjut. Perubahan fisik maupun psikologi. Orang yang sudah lanjut usia alias lansia, umumnya sangat rentan mengalami gangguan kesehatan.

Ini bisa mempengaruhi kepribadian dan perilakunya. Salah satunya adalah membuat orang tersebut kembali bersikap seperti anak-anak. Lho Bu Mega?

Psikiatri dari Unair ini bilang perubahan perilaku yang muncul pada lansia,  karena adanya penurunan fungsi kognitif. Apalagi decara alami, tubuh manusia umumnya akan mengalami penurunan fungsi, termasuk pada organ tubuh dan psikologi.

Umumnya, kata psikiatri muda, orang yang sudah tua berkecenderungan akan mengalami penurunan kualitas memori dan fungsi kognitif.

Penurunan ini bisa membuat lansia kesulitan dalam memecahkan masalah, mudah lupa, dan sering merasa tertekan.

Hal ini yang memicu orang yang sudah tua sering berpikir bahwa ia “tidak becus” dan menjadi mudah marah pada diri sendiri atau pada orang yang ada di sekitar.

Kondisi itu yang membuat lansia seolah kembali menjadi anak-anak dan bertingkah laku sesukanya.

Halo Bu Megawati, apa benar orang lansia kekanak kanakan? Saya bertanya ini, karena saya belum pernah jadi lansia seperti ibu.

Perilaku suka ngondokan, bisa jadi mood Bu Mega terganggu, sehingga mudah marah dan sensitif.

Saran saya, lain kali bila membaca berita di koran, jangan hanya judulnya saja. Bisa ketipu. Ingat pesan dari saya, judul berita yang menarik adalah magnet bagi pembaca agar mereka tertarik terhadap berita yang disampaikan.

Ajaran senior saya, judul tak perlu panjang, sedapat mungkin singkat, jelas dan padat, harus mewakili isi berita, dan langsung menusuk jantung pembaca.

Diajarkan juga judul kadang harus provokatif. Jangan-jangan Bu Mega, membaca judul "PDIP Panik" keracunan provokasi wartawan muda yang menulis berita itu. Saya juga heran ada politisi setua, Megawati bisa diprovokasi wartawan muda. Kasihan! ([email protected])

Berita Terbaru

Sambut HUT ke-108, Pemkot Mojokerto Gelar Pengajian Akbar Bersama Gus Iqdam

Sambut HUT ke-108, Pemkot Mojokerto Gelar Pengajian Akbar Bersama Gus Iqdam

Senin, 08 Jun 2026 06:33 WIB

Senin, 08 Jun 2026 06:33 WIB

  SURABAYA PAGI.COM, Mojokerto – Pemerintah Kota Mojokerto menggelar Pengajian Akbar bersama Gus Iqdam di Taman Bahari Majapahit (TBM), Ahad (7/6), sebagai ba…

Ekonom Rasakan Tekanan Kondisi Keuangan

Ekonom Rasakan Tekanan Kondisi Keuangan

Senin, 08 Jun 2026 05:50 WIB

Senin, 08 Jun 2026 05:50 WIB

SURABAYAPAGI.COM : Chief Economist Bank Permata, Josua Pardede, menjelaskan Indonesia menghadapi kolaps di sektor perbankan dengan inflasi yang tinggi pada…

Saat di Bali, Prabowo Cerita Angka Hokinya, 8 dan 13

Saat di Bali, Prabowo Cerita Angka Hokinya, 8 dan 13

Senin, 08 Jun 2026 05:48 WIB

Senin, 08 Jun 2026 05:48 WIB

SURABAYAPAGI.COM : Presiden Prabowo Subianto bercerita tentang dua angka yang dianggapnya sebagai angka keberuntungan. Dia menyebutkan dua angka itu ialah 8…

Masyarakat Keluhkan Kualitas Beras Bantuan Perum, Bulog Merespon

Masyarakat Keluhkan Kualitas Beras Bantuan Perum, Bulog Merespon

Senin, 08 Jun 2026 05:45 WIB

Senin, 08 Jun 2026 05:45 WIB

SURABAYAPAGI.COM : Memberikan atensi atas keluhan warga soal kualitas beras Bantuan Pangan Pemerintah (Banpang) di sejumlah desa di Kabupaten Bangkalan, Jawa…

Said Iqbal, Bakal Jadi Penasihat Presiden Bidang Ketenagakerjaan

Said Iqbal, Bakal Jadi Penasihat Presiden Bidang Ketenagakerjaan

Senin, 08 Jun 2026 05:45 WIB

Senin, 08 Jun 2026 05:45 WIB

SURABAYAPAGI.COM : Presiden Partai Buruh, Said Iqbal, akan bergabung dengan pemerintahan Prabowo Subianto.Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh…

Anak Istri Kedua yang Sudah Dicerai ,Jadi Menlu Brunei

Anak Istri Kedua yang Sudah Dicerai ,Jadi Menlu Brunei

Senin, 08 Jun 2026 05:40 WIB

Senin, 08 Jun 2026 05:40 WIB

SURABAYAPAGI..COM: Sultan Brunei Darussalam Hassanal Bolkiah secara resmi mengumumkan perombakan atau reshuffle kabinet besar-besaran di negaranya.Langkah…